Monday, April 6, 2015

Makalah Pengorganisasian Pendidikan




PENGORGANISASIAN PENDIDIKAN
Makalah Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Dasar-Dasar Manajemen Pendidikan
Dosen Pengampu: Wahyudi, M.Pd


 Disusun oleh PAI 2A:
Fanny Nurussalam      (113811009)
Nur Hajjah Jamil          (113811015)
Baihaqi                           (133111013)
Muhamad Basori         (133111016)
Nur Rizkoh H. H.          (133111017)
Lia Lutfiana                  (133111018)

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN WALISONGO SEMARANG
2014

       I.            PENDAHULUAN
Organisasi merupakan suatu bentuk dari sistem sosial. Sebagai salah satu bentuk organisasi pendidikan, maka dengan sendirinya sekolah merupakan salah satu bentuk dari sistem sosial, yang tentunya mempunyai sub sistem sosial yang lain. Sebagai sebuah sistem organisasi, sekolah juga memiliki kegiatan administrasi dan manajemen. Inti dari organisasi ini adalah kegiatan belajar mengajar, baik dikelas maupun diluar kelas.[1]
Organisasi secara umum dapat diartikan memberi struktur atau susunan yakni dalam penyusunan/penempatan orang-orang dalam suatu kelompok kerja sama, dengan maksud menempatkan hubungan antara orang-orang dalam kewajiban-kewajiban, hak-hak dan tanggung jawab masing-masing. Penentuan struktur, hubungan tugas dan tanggung jawab itu dimaksudkan agar tersusun suatu pola kegiatan untuk menuju kearah tercapainya tujuan bersama. Dengan kata lain organisasi adalah aktivitas dalam membagi-bagi kerja, menggolong-golongkan jenis pekerjaan, memberi wewenang, menetapkan saluran perintah dan tanggung jawab kepada para pelaksana.[2]
    II.            RUMUSAN MASALAH
A.    Apa Pengertian dan Konsep dari Pengorganisasian?
B.     Apa Proses Pengorganisasian?
C.     Bagaimana Struktur dari Pengorganisasian?
D.    Bagaimana Kultur dalam Pengorganisasian?
E.     Bagaimana Prinsip dalam Pengorganisasian?

 III.            TUJUAN PENULISAN
A.    Untuk mengetahui apa pengertian dan konsep dari pengorganisasian.
B.     Untuk mengetahui proses Pengorganisasian.
C.     Untuk mengetahui bagaimana struktur dari pengorganisasian.
D.    Untuk mengetahui bagaimana kultur dalam pengorganisasian.
E.     Untuk mengetahui bagaimana prinsip dalam pengorganisasian.
 IV.            PEMBAHASAN
A.    Pengertian dan Konsep dari Pengorganisasian
Istilah “organisasi” secara etimologi berasal dari bahasa latin “organum” yang berarti “alat”. Sedangkan “organize” (bahasa inggris) berarti “mengorganisasikan” yang menunjukkan tindakan atau usaha untuk mencapai sesuatu. “Organizing” (pengorganisasian) menunjukkan sebuah proses untuk mencapai sesuatu. Organisasi sebagai salah satu fungsi manajemen sesungguhnya telah banyak didefinisikan oleh para ahli.[3]
Menurut Prof. DR. S.P. Siagian, organisasi adalah setiap bentuk persekutuan antara dua orang atau lebih yang bekerja sama untuk tujuan bersama dan terikat secara formal dalam persekutuan. Dalam hal ini selalu terdapat hubungan antara seorang atau kelompok yang disebut pimpinan dan seorang atau kelompok orang yang disebut bawahan.[4]
Istilah organisasi mempunyai dua pengertian umum. Pertama, organisasi diartikan sebagai suatu lembaga atau kelompok fungsional, misalnya sebuah perusahaan, sebuah sekolah, sebuah perkumpulan, badan-badan pemerintahan. Kedua, merujuk pada proses pengorganisasian yaitu bagaimana pekerjaan diatur dan dialokasikan diantara para anggota, sehingga tujuan organisasi itu dapat tercapai secara efektif. Sedangkan organisasi itu sendiri diartikan sebagai kumpulan orang dengan sistem kerja sama untuk mencapai tujuan bersama.[5]
Organisasi dapat disamakan dengan kesebelasan sepak bola yang dinamis dengan kegiatan yang berubah-ubah dalam pola yang fleksibel dengan anggota-anggota tim yang tetap. Tim dilapangan hijau tersebut dalam perubahan dan pergantian yang cepat dalam formasi untuk setiap permainan, akan tetapi setiap anggota membantu untuk mempertahankan organisasi tim dengan kerja sama.
Seorang yang bekerja untuk kemenangan pribadi bukanlah teman sepermainan yang baik. Ia dapat menyebabkan kesebelasannya kalah dan dapat merusak organisasi tim karena ia gagal untuk bekerja sama dengan timnya.
Organisasi dan kerja sama (team work) tidak akan timbul kecuali kalau setiap anggota memahami apa yang harus dilakukan oleh kelompok dan dimana tempat serta apa fungsi setiap orang dalam pola itu. Yang menjadikan seorang anggota organisasi aktif, pada hakekatnya perasaan diikutsertakan, perasaan bahwa organisasi itu merupakan wadah yang menyalurkan keinginan dan harapannya, dimana ia dapat berpartisipasi dalam karya kelompok, sehingga dapat melakukan pekerjaan yang terorganisasi dengan membawa hasil yang besar.[6]
Pengorganisasin sebagi proses membagi kerja kedalam tugas-tugas yang lebih kecil, membebankan tugas-tugas itu kepada orang yang sesuai dengan kemampuanya, dan mengalokasikan sumber daya, serta mengkoordinasikannya dalam rangka efektifitas pencapaian tujuan organisasi.[7] Pengorganisasisan adalah proses kegiatan penyusuan struktur organisasi sesuai dengan tujuan-tujuan, sumber-sumber dan lingkunganya.[8]
Menurut Handoko(2003) pengorganisasian ialah pengaturan kerja bersama sumber daya keuangan, fisik, dan manusia dalam organisasi.[9]Berikut ini beberapa Pengertian pengorganisasian menurut para ahli :
1.   Gr.Terry
Pengorganisasian adalah tindakan mengusahakan hubungan – hubungan kelakuan yang efektif antara orang – orang, sehingga mereka dapat bekerjasama secara efisien, dan dengan demikian memperoleh kepuasan pribadi dalam hal melaksanakan tugas –tugas tertentu dalam kondisi likungan tertentu guna mencapai tujuan atau sasaran tertentu. 
2.      Koontz & Donnell
Fungsi pengorganisasian manajer meliputi penentuan golongan kegiatan – kegiatan yang diperlukan untuk tujuan – tujuan perusahaan, pengelompokan kegiatan tersebut kedalam suatu bagian yang dipimpin oleh seorang manajer serta melimpahkan wewenang untuk melaksanakannya.
3.      Sp Hasibuan
Pengorganisasian adalah suatu proses penentuan, pengelompokan dan pengaturan bermacam – macam aktifitas yang diperelukan untuk mencapai tujuan, menempatkan orang – orang pada setiap aktifitas, menyediakan alat – alat yang diperlukan, menetapkan wewenang yang secara relatif didelegasikan kepada setiap individu yang akan melakukan aktifitas tersebut.[10]
Jika dikaitkan dengan dunia pendidikan, organisasi pendidikan adalah tempat untuk melakukan aktivitas pendidikan  untuk mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan, sedangkan pengorganisasian pendidikan adalah sebuah proses pembentukan tempat atau sistem dalam rangka melakukan kegiatan kependidikan untuk mencapai tujuan yang diinginkan.[11]
B.     Proses Pengorganisasian
Ernest Dale (Stoner, 1986) memberikan pengorganisasian sebagi sebuah proses yang berlangkah jamak. Proses pengorasiasin digambarkan sebagi berikut :
a)      Pemerincian Pekerjaan
Dalam memperinci pekerjaan adalah menetukan tugas-tugas apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi.
b)      Pembagin Kerja
Membagi seluruh beban kerja menjadi kegiatan-kegiatan yang dapat dilksanakan oleh perseorangn atau perkelompok.
c)      Penyatuan Pekerjaan
Menggabungkan pekerjaan para anggota dengan cara yang rasional, efisien.
d)     Kordinasi Pekerjaan
Menetapkan mekanisme kerja untuk mengkoordinasikan pekerjaan dalam satu kesatuan yang harmonis.
e)      Monitoring dan Reorganisasi
Melakukan monitoring dan mengambil langkah-langkah penyesuaian untuk mempertahan kan dan meningkatkan efektifitas[12]
C.     Struktur dari Pengorganisasian
Salah satu fungsi atau tugas manajemen adalah mengorganisasi. Dalam tugas ini tidaklah dimaksud manajer membuat organisasi atau menggerakkan para anggota organisasi, melainkan membuat struktur atau merumuskan mekanisme kerja bagi organisasinya. Semua tugas yang harus dikerjakan dalam organisasi dikelompok-kelompokkan menjadi unit-unit kerja. Kemudian pekerjaan pada setiap unit dibagi-bagikan kepada personalia yang ada pada unit itu sesuai dengan kompetensinya masing-masing. Tetapi bila unit kerja itu besar, maka ia dapat pula dibagi lagi menjadi sub unit sebelum pembagian tugas untuk masing-masing individu dilakukan. Begitu pula kalau organisasi itu sangat besar, beberapa unit kerja yang mempunyai kesamaan dapat pula digabungkan dibawah nama tertentu, departemen misalnya.[13]
Untuk menterjemahkan kegiatan antar komponen organisasi agar dapat dipahami, dan dijadikan pedoman dalam bekerja dituangkan dalam suatu struktur organisasi. Dengan perkataan lain agar komponen itu bisa berkaitan satu dengan lainnya, dalam arti bahwa masing-masing komponen itu berinteraksi sesuai dengan harapan tercapainya tujuan organisasi diperlukan kerangka yang berfungsi sebagai pedoman pelaksanaan kerja sama. Kerangka kerja sama itu disebut struktur.[14]
Dengan demikian struktur organisasi adalah mekanisme kerja organisasi itu yang menggambarkan unit-unit kerjanya dengan tugas-tugas individu didalamnya beserta kerja samanya dengan individu –individu lain dan hubungan antara unit-unit kerja itu baik secara vertikal maupun horisontal.[15]
Pada struktur organisasi tergambar posisi kerja, pembagian kerja, jenis kerja yang harus dilakukan, hubungan atasan dengan bawahan, kelompok, komponen atau bagian, tingkat manajemen dan saluran komunikasi. Suatu struktur organisasi menspesifikasi pembagian kegiatan kerja dan menunjukkan bagaimana fungsi atau kegiatan yang berbeda-beda itu dihubungkan.[16]
Struktur mengikuti proses, dan berikut adalah beberapa hal penting yang diperlukan oleh organisasi :
1.      Optimisasi unit.
Setiap unit, program dan departemen harus berjalan secara efisien dan efektif. Masing-masing bidang harus memiliki kejelasan standar mutu, sebaiknya tertulis, dalam menjalankan programnya.
2.      Penjajaran vertikal.
Setiap anggota staf harus memahami strategi institusi, demikian pula dengan arah dan misi institusi tersebut.
3.      Penjajaran horizontal.
Kompetensi antar unit, program atau departemen harus dihilangkan atau sebaliknya, harus ada pemahaman terhadap tujuan dan kebutuhan dari bagian-bagian lain organisasi. Mekanisme harus menjadi bagian penting dalam mengatasi masalah secara efektif.
4.      Satu komando pada setiap proses.
Proses kunci, baik itu kurikulum, pastoral, maupun administrasi, harus dirancang dan diorganisir, sehingga setiap proses berada dibawah satu komando.[17]
Berikut adalah contoh struktur organisasi di sekolah:





POMG/BP3   ----------   Pimpinan (Kep.Sek)
                                                                                                            TU Sek.
                                                                        Dewan Guru
   
      Urusan Bimbingan          Urusan Kurikulum            Urusan sosial         Urusan Perlengkapan
                                                                       Guru Kelas
                                                                             Siswa[18]          

D.    Kultur dalam Pengorganisasian
Shephen P. Robbins mengemukakam definisi kultur organisasi adalah “organization culture is a common perception held by the organization’s members, a sistem of shared meaning.”
Micheal Amstrong menyatakan bahwa budaya organisasi adalah pola sikap, keyakinan, asumsi dan harapan yang dimiliki bersama, yang mungkin tidak dicatat, tetapi membentuk cara bagaimana orang-orang bertindak dan berinteraksi dalam organisasi dan mendukung bagaimana hal-hal dilakukan.
Davis (1948) menyatakan bahwa budaya organisasi merupakan pola keyakinan dan nilai-nilai organisasi yang dipahami, dijiwai, dan dipraktikkan organisasi sehingga pola tersebut memberikan arti tersendiri dan menjadi dasar aturan berperilaku dalam organisasi.
Dari beberapa pernyataan, budaya organisasi dapat diartikan sebagai pola nilai-nilai, kepercayaan, asumsi-asumsi, sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan seseorang atau kelompok manusia yang mempengaruhi perilaku kerja dan cara bekerja dalam organisasi. Dalam pengertian lain juga dapat dikatakan bahwa budaya organisasi adalah sebuah sistem nilai, kepercayaan dan kebiasaan-kebiasaan dalam suatu organisasi yang saling berinteraksi sehingga menghasilkan norma-norma perilaku organisasi.
Budaya diyakini mempunyai pengaruh terhadap kehidupan organisasi. Konsep dari budaya organisasi ini adalah sebuah persepsi bawah sadar bagi anggota organisasi. Persepsi ini meliputi kata, tindakan, rasa, keyakinan, dan nilai-nilai yang dapat berpengaruh terhadap kinerja organisasi.
Budaya organisasi mempunyai beberapa fungsi diantaranya adalah:
1.      Memberikan identitas organisasi kepada anggotanya
2.      Memudahkan komitmen kolektif
3.      Mempromosikan stabilitas sistem sosial
4.      Membentuk perilaku dengan membuat manajer merasakan keberadaannya
Budaya organisasi hakikatnya adalah fenomena kelompok, oleh karenanya terbentuknya budaya organisasi tidak dapat lepas dari dukungan kelompok dan terbentuk dalam waktu yang lama. Pembentukan  budaya organisasi juga melibatkan leader / tokoh (top manager) yang secara ketat menerapkan visi, misi dan nilai-nilai organisasi kepada para bawahannya sehingga dalam waktu tertentu menjadi kebiasaan dan dijadikan acuan oleh seluruh anggotanya untuk bertindak dan berperilaku.[19]
E.     Prinsip-Prinsip dalam Pengorganisasian
Ada beberapa hal pokok yang harus diperhatikan dalam hubungannya dengan pengorganisasian, seringkali orang menamakan hal pokok tersebut sebagai prinsip. Prinsip-prinsipnya sebagai berikut:
1.      Mempunyai tujuan yang jelas.
2.      Para anggota menerima dan memahami tujuan tersebut.
3.      Adanya kesatuan arah sehingga dapat menimbulkan kesatuan tindakan, kesatuan pikiran, dsb.
4.      Adanya kesatuan perintah (unity of command), para bawahan atau anggota hanya mempunyai seorang atasan langsung, dan daripadanya ia menerima perintah atau bimbingan, serta kepadanya ia harus mempertanggungjawabkan pekerjaannya.
5.      Adanya keseimbangan antara wewenang dan tanggung jawab seseorang didalam organisasi itu. Sebab, tidak adanya keseimbangan tersebut akan memudahkan timbulnya hal-hal yang tidak diinginkan, seperti:
-          Jika wewenang lebih besar dari pada tanggung jawab, mudah menimbulkan penyalahgunaan wewenang.
-          Jika tanggung jawab lebih besar dari pada wewenang, mudah menimbulkan banyak kemacetan, merasa tidak aman atau ragu-ragu dalam tindakan.
6.      Struktur organisasi hendaknya disusun sesederhana mungkin, sesuai kebutuhan koordinasi, pengawasan, dan pengendalian.
7.      Pola organisasi hendaknya relative permanen. Artinya, meskipun struktur organisasi dapat dan memang harus diubah sesuai dengan tuntutan perkembangan, fleksibilitas fleksibilitas dalam penyesuaian itu jangan bersifat prinsip. Oleh karena itu, pola dasar struktur organisasi perlu dibuat sedemikiam rupa sehingga sedapat mungkin permanen.
8.      Adanya jaminan keamanan dalam bekerja (security of tenure), bawahan atau anggota tidak merasa gelisah karena takut dipecat, ditindak sewenang-wenang,dsb.
9.      Garis-garis kekuasaan dan tanggung jawab serta hierarki tata kerjanya jelas tergambar di dalam struktur atau bahan organisasi.[20]
10.  Penempatan orang yang  bekerja dalam organisasi itu hendaknya sesuai dengan kemampuannya.[21]


    V.            KESIMPULAN
A.    Pengertian dan konsep pengorganisasian
Organisasi adalah sebuah wadah, tempat atau sistem untuk melakukan kegiatan bersama untuk mencapai tujuan yang digunakan, sedangkan pengorganisasian adalah bembentukan wadah/sistem dan penyusunan anggota dalam bentuk struktur organisasi untuk mencapai tujuan organisasi.
Pengorganisasian pendidikan adalah sebuah proses pembentukan tempat atau sistem dalam rangka melakukan kegiatan kependidikan untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
B.     Proses pengorganisasian
1.      Pemerincian Pekerjaan
2.      Pembagin Kerja
3.      Penyatuan Pekerjaan
4.      Kordinasi Pekerjaan
5.      Monitoring dan Reorganisasi
C.     Struktur dalam pengorganisasian
Pada struktur organisasi tergambar posisi kerja, pembagian kerja, jenis kerja yang harus dilakukan, hubungan atasan dengan bawahan, kelompok, komponen atau bagian, tingkat manajemen dan saluran komunikasi.
Beberapa hal penting yang diperlukan oleh organisai yaitu: optimisasi unit, penjajaran vertikal, penjajaran horizontal, dan satu komando pada setiap proses.
D.    Kultur dalam pengorganisasian
Budaya organisasi adalah sebuah sistem nilai, kepercayaan dan kebiasaan-kebiasaan dalam suatu organisasi yang saling berinteraksi sehingga menghasilkan norma-norma perilaku organisasi.
Budaya organisasi mempunyai beberapa fungsi diantaranya adalah:
1.      Memberikan identitas organisasi kepada anggotanya
2.      Memudahkan komitmen kolektif
3.      Mempromosikan stabilitas sistem sosial
4.      Membentuk perilaku dengan membuat manajer merasakan keberadaannya
E.     Prinsip-prinsip pengorganisasian
1.      Mempunyai tujuan yang jelas
2.      Anggota menerima dan memahami tujuan tersebut
3.      Adanya kesatuan arah
4.      Adanya kesatuan perintah
5.      Adanya keseimbangan antara wewenang dan tanggung jawab
6.      Struktur organisasi hendaknya disusun sesederhana mungkin
7.      Pola organisasi hendaknya relative permanen
8.      Adanya jaminan keamanan dalam bekerja
9.      Garis kekuasaan dan tanggung jawab tergambar di dalam struktur organisasi
10.  Penempatan orang dalam organisasi hendaknya sesuai dengan kemampuannya.

 VI.            PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat penyusun sajikan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat baik bagi penyusun ataupun pembaca. Penyusun menyadari masih banyak kekurangan dari makalah ini. Untuk itu, kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini dari pembaca sangat penyusun butuhkan agar makalah ini menjadi lebih baik. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagai para pembaca pada umumnya dan khususnya bagi para pemakalah.

DAFTAR PUSTAKA

Atmodiwirio, Soebagio, Manajemen Pendidikan Indonesia, Jakarta: Ardadizya Jaya, 2005.
Fattah, Nanang, Landasan Manajemen Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004.
Hidayat, Ara dan Imam Machali, Pengelolaan Pendidikan, Bandung: Pustaka Educa, 2010.
Husaini, Usman, Manajemen Teori Praktik dan Riset Pendidikan, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2008.

Isjoni, Manajemen Kepemimpinan dalam Pendidikan, Bandung: Sinar Baru Argensindo, 2007.
Mulyono, Manajemen Administrasi dan Organisasi Pendidikan, Yogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2008.
Pidarta, Made, Manajemen Pendidikan Indonesi, Jakarta: Rineka Cipta, 2004.
Purwanto, Ngalim, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004.
Sallis, Edward, Manajemen Mutu Terpadu Pendidikan, Jakarta: IRCiSoD, 2010.
Suryosubroto, B., Manajemen Pendidikan Di Sekolah, Jakarta: Rineka Cipta, 2004.



[1] B. Suryosubroto, Manajemen Pendidikan Di Sekolah, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), hal. 139.
[2] Mulyono, Manajemen Administrasi Dan Organisasi Pendidikan, (Yogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2008), hal. 64
[3] Ara Hidayat dan Imam Machali, Pengelolaan Pendidikan, (Bandung, Pustaka Educa, 2010),  hal. 63.
[4] Soebagio Atmodiwirio, Manajemen Pendidikan Indonesia, (Jakarta: Ardadizya Jaya, 2005),  hal. 100.
[5] Nanang Fattah,  Landasan Manajemen Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), hal. 71.
[6] Isjoni,  Manajemen Kepemimpinan dalam Pendidikan, (Bandung, Sinar Baru Argensindo, 2007), hal. 122-123.
[7] Nanag fatah,  Landasan Manajemen Pendidikan, (Bandung: PT Premaja Rosdakarya,2011), hal. 71.
[8]Mulyono,  Manajemen Adminitrasi dan Organisasi Pendidikan, (Yogyakarta: Ar-ruzz Media, 2008), hal. 71.
[9] Husaini Usman, Manajemen Teori Praktik dan Riset Pendidikan, (Jakarta: PT Bumi Aksara,2008),  hal. 141.
[11] Ara Hidayat dan Imam Machali, Pengelolaan Pendidikan, (Bandung: Pustaka Educa, 2010),  hal. 64.
[12]Nanag fatah, Landasan Manajemen Pendidikan, (Bandung:Pt Premaja Rosdakarya,2011), hal. 73.
[13] Made Pidarta, Manajemen Pendidikan Indonesia, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004),  hal. 56-57.
[14] Soebagio Atmodiwirio, Manajemen Pendidikan Indonesia, (Jakarta: Ardadizya Jaya, 2005),  hal. 104.
[15] Made Pidarta, Manajemen Pendidikan Indonesia, hal. 57.
[16] Nanang Fattah,  Landasan Manajemen Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004),hal. 75.
[17] Edward Sallis, Manajemen Mutu Terpadu Pendidikan, (Jakarta: IRCiSoD, 2010), hal. 165.
[18] Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004),  hal. 162
[19] Ara Hidayat dan Imam Machali, Pengelolaan Pendidikan, (Bandung, Pustaka Educa, 2010), hlm. 64-73.
[20] Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), hlm. 108-109.
[21] B. Suryosubroto, Manajemen Pendidikan Di Sekolah, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), hlm. 25.

0 komentar:

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More