Baihaqi An nizar

Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan - UIN Walisongo Semarang

Baihaqi An Nizar

Kunjunan Crew LPM Edukasi di Kantor Jawa Pos Jawa Timur

Baihaqi An nizar

Kebersamaan Anggota HMJ PAI '2013' di Curug Sewu, Kendal, Semarang

Baihaqi An nizar

Bersama Santri Ponpes al-Ma'rufiyyah di Pulau Dewata Bali

Baihaqi An nizar

Bareng Anak MAN Purworejo di Pantai Krakal, Yoyakarta

Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Wednesday, November 22, 2017

Teknik Penulisan Opini


Pada materi sebelumnya (baca: di sini) telah dipaparkan mengenai jenis tulisan berupa artikel. Dalam pembahasan tersebut juga sudah sedikit disinggung terkait apa itu opini. Dalam beberapa diskusi jusnalistik, kedua jenis tulisan ini—artikel dan opini—kerap dipertanyakan, tak jarang pula diperdebatkan. Hal ini disebabkan tidak adanya acuan yang jelas mengenai perbedaan masing-masing istilah tersebut. Bahkan boleh jadi pengertiannya memang tak jauh berbeda.

Tetapi jika mau jeli, semua jenis tulisan mempunyai ciri khas atau karakternya masing-masing, sehingga bisa disebut apakah tulisan itu merupakan artikel atau opini. Meskipun bisa jadi, antara pembaca satu dengan pembaca lainnya menamainya secara berbeda.

Pertama, penting untuk diketahui bahwa opini maupun artikel sama-sama pendapat atau anggapan seorang penulis terhadap suatu persoalan. Keduanya merupakan jenis tulisan nonfiksi yang didasarkan pada data dan fakta. Bukan karangan atau khayalan. Menitikberatkan pada kekuatan interpretasi bukan imajinasi.

Dalam penulisan opini, selain harus meyertakan data yang faktual (sesuai kenyataan), tetapi pendapat pribadi lebih diutamakan. Maka biasanya, diperlukan keahlian dalam berkomentar serta ketajaman dalam menganalisis suatu persoalan. Keahlian Ini tidak terlalu "diperlukan" bagi penulis artikel. Sebab, dalam artikel, pendapat si penulis diungkapkan dengan cara merujuk pada suatu teori atau pendapat yang telah diungkapkan oleh orang lain. Dalam hal penulisan artikel, dibutuhkan lebih banyak referensi.

Pada umumnya, karakter tulisan opini itu lugas (tidak berbelit-belit). Hal yang diangkat merupakan masalah aktual, yang sedang hangat dibicarakan, baik lingkupnya lokal, regional, nasional, maupun internasional. Tulisan opini lebih rentan perdebatan, karena analisisnya kadang belum teruji. Ini berbeda dengan artikel yang dalam penulisannya dituntut lebih sistematis, empiris, serta jelas rujukannya. Maka tak heran jika karya ilmiah sering disebut sebagai artikel, sedang opini identiknya dengan tulisan-tulisan di surat kabar.

Jenis penulisan opini biasanya bersifat persuasif. Artinya, arah tulisannya lebih berisi ajakan agar pembaca dapat mengikuti apa yang dikemukakan dalam gagasannya. Meskipun ajakannya tersirat, tetapi mencolok. Ini pula yang membedakannya dengan artikel. Jenis artikel lebih mengajak pembaca untuk memahami tentang apa yang ditemukan dan tidak memiliki kalimat persuasif sebagaimana opini.

Itulah sekelumit penjelasan mengenai jenis tulisan opini ditinjau dari perbedaannya dengan artikel. Jika masih belum paham, besok kita diskusikan. Pesan saya, jangan sampai lantaran kesulitan membedakannya, justru membuat enggan untuk belajar menulis.

Baihaqi Annizar

Wednesday, November 15, 2017

Teknik Penulisan Artikel


Secara umum, tulisan cukup dikategorisasikan ke dalam dua macam. Pertama berita, kedua wacana. Dalam berita ada banyak ragamnya, begitu pula dengan wacana, meliputi: artikel, opini, kolom, esai, dan masih banyak penyebutan lainnya. Dalam pengertian sehari-hari, artikel, opini, kolom, bahkan juga esai kerap dianggap sama dan bisa saling dipertukarkan tempatnya. Ada pula yang mengangap semua tulisan di media cetak (koran, majalah, tabloid, buletin, jurnal, dan news letter) sebagai artikel. Hal ini mungkin merujuk pada KBBI yang mengartikan artikel sebagai: karya tulis lengkap, misalnya laporan berita atau esai di majalah, surat kabar, dsb.

Dalam dunia jurnalistik, kategorisasi tersebut lebih diperjelas. Artinya, pembedaan jenis tulisan akan lebih kentara. Adapun untuk jenis tulisan artikel biasanya diartikan sebagai salah satu bentuk tulisan nonfiksi (berdasarkan data dan fakta) dan diberi sedikit analisis serta pendapat oleh penulisnya. Biasanya, artikel hanya menyangkut satu pokok permasalahan, dengan sudut pandang hanya dari satu disiplin ilmu.

Perbedaan artikel dengan opini

Opini dibedakan dengan artikel karena dalam opini, pendapat pribadi (buah pikiran) si penulis lebih diutamakan (baca: Teknik Penulisan Opini). Sementara dalam artikel, pendapat pribadi si penulis biasanya dikemukakan dalam bentuk analisis atau data dan fakta tandingan--yang berbeda dengan data dan fakta yang dijadikan bahan tulisan. Dengan adanya analisis serta data dan fakta tandingan itu, pembaca artikel diharapkan bisa mengambil kesimpulan sendiri.

Struktur dan komponen artikel

Artikel tidak berbentuk "piramida terbalik" sebagaimana struktur dalam berita, melainkan berbentuk "balok"; sama besar yang memanjang dari atas ke bawah. Bentuk demikian dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa dalam artikel, bagian yang paling atas, sama pentingnya dengan yang di tengah maupun yang di bawah. Adapun komponen dalam sebuah tulisan—termasuk artikel—selalu terdiri dari judul (bisa dengan atau tanpa anak judul), nama penulis (bisa di atas bisa di bawah, bisa tidak ada), lead (kepala tulisan), body (tubuh/inti tulisan), dan ending.

Metode penulisan artikel

Artikel paling mudah ditulis dengan metode induksi atau deduksi. Dalam metode induksi, penulis berangkat dari sebuah contoh khusus, misalnya kasus korupsi untuk membuat kesimpulan yang bersifat umum tentang gejala korupsi. Dalam metode deduksi, penulis menggunakan cara kebalikan dari induksi, yakni menggunakan sebuah gejala umum untuk membuat kesimpulan terhadap contoh khusus. Misalnya, penulis menunjukkan bagaimana amburadulnya pengaturan lalu lintas di suatu tempat, lalu gejala umum itu digunakan untuk menyimpulkan bahwa sebuah contoh kecelakaan lalu lintas merupakan akibat dari gejala umum tersebut.

Apakah dalam penulisan artikel harus menggunakan metode induksi atau deduksi? Tidak harus! Bahkan sebenarnya tidak pernah ada pedoman baku bagaimana seharusnya sebuah artikel ditulis. Selain metode induktif--deduktif, bisa pula digunakan metode tesis, antitesis, dan sintesis. Bisa pula dengan metode pengajuan pertanyaan 5W + 1H yang tentunya diulas berbada dengan gaya penulisan berita.

Pentingnya data dan fakta

Data dan fakta merupakan materi yang paling penting dalam sebuah artikel. Sebab tanpa data dan fakta yang kuat, maka artikel akan berubah menjadi opini. Misalnya, ketika terjadi sebuah kasus pelacuran mahasiswa (ayam kampus) di UIN Walisongo, maka seorang penulis artikel yang baik akan segera membuka file tantang fenomena pelacuran yang melibatkan kalangan mahasiswa; sudah terjadi di mana saja, pelakunya dan korbannya mayoritas berlatar belakang seperti apa, penanganan pihak kampus ataupun negara setelah ketahuan bagaimana, dll.

Dengan data-data tersebut, si penulis artikel bisa membuat analisis sederhana dan menyimpulkan, apakah kasus pelacuran mahasiswa yang terjadi selama sepuluh tahun terakhir ini meningkat atau menurun? Kalau meningkat mengapa? Kalau menurun mengapa? Sebab tekanan utama pada penulisan artikel adalah pada pertanyaan "mengapa" dan "bagaimana".

Bagaimana jika hanya menggunakan pernyataan umum?

Tidak boleh! Sebab artikel demikian akan mengaburkan data yang seharusnya ada dalam tulisan tersebut. Misalnya kita menyebut bahwa: “Akhir-akhir ini telah terjadi penggundulan hutan dan perusakan alam secara membabibuta oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab dst.” Pernyataan tersebut sangat umum dan dangkal karena tidak disertai dengan fakta dan data. Beda kalau misalnya kita sebutkan bahwa: “Tahun ini sekian juta hektar hutan primer telah ditebang habis oleh pengusaha HPH di Provinsi A, B, C, dan D. Dibanding dengan tahun lalu, angka penebangan ini telah naik empat kali lipat dst.

Tetapi yang terpenting dari sekadar mengetahui semua jenis tulisan beserta teknik-tekniknya, adalah mau memulai untuk belajar. Karena sejatinya, belajar menulis adalah menulis itu sendiri.

Baihaqi Annizar

Saturday, November 11, 2017

Gerakan Mahasiswa, Dulu dan Sekarang


Oleh: Baihaqi Annizar

Lain dulu lain sekarang. Ditilik dari sejarahnya, gerakan mahasiswa dari masa ke masa penuh dengan dinamika dan fluktuasi. Bahkan sekarang, degradasi gerakan mahasiswa kian menukik disegala lini. Organisasi-organisasi kemahasiswaan yang aktif mengawal isu-isu kemanusiaan, sudah tidak lagi diminati. Orator-orator muda yang garang melantangkan suara rakyat, kini sudah jarang ditemui. Ribuan mahasiswa yang turun ke jalan menyuarakan aspirasi masyarakat, kini bisa dihitung jari. Apakah ini yang disebut dengan dampak negatif arus globalisasi. Atau justru ini merupakan gaya pemuda masa kini yang miskin hati nurani.

Pertanyaanya sekarang, dimanakah budaya intelektual para pemuda yang berhasil menggagas kebangkitan nasional (1908)? Dimana semangat juang kaum muda yang pernah berhasil merebut kemerdekaan (1945)? Mana kegarangan teriakan mahasiswa yang telah meruntuhkan Kerajaan 32 tahun Soeharto (1998)? Kemanakah para penerus cita-cita bangsa di zaman ini? Jawabannya mungkin bisa kita lihat di mall-mall yang dipenuhi kaum muda. Di pinggiran jalan dengan sekumpulan klub motornya, di kafe dengan budaya bebasnya, atau di konser musik yang berdesak-desakan. Mungkin tidak semua, namun itulah kenyatannya.

Tantangan

Dampak negatif globalisasi munghujam deras dalam alur pikiran pemuda masa kini. Arus modernisasi, terlebih budaya westernisasi kian sulit diantisipasi. Gaung hedonisme sudah tidak bisa dibendung lagi. Antibodi idealitas dan semangat antikemapanan dianggap tidak relevan lagi. Mayoritas generasi muda lebih senang berhura-hura, dengan mengerdilkan intelektualnya. Keseharian mereka hanya diisi dengan budaya non akademis, tidak mau belajar, malas bergelut dengan dunia diskusi apalagi turun aksi berdemonstrasi. Akibatnya, terjerumus dalam manuver modernisasi yang membuatnya menjadi kaum pragmatis.

Belum lagi masalah yang berkaitan dengan sistem birokrasi kampus. Banyak kebijakan yang secara terstuktur dan masif mengekang kebebasan mahasiswa. Ketentuan maksimal lima tahun masa studi disinyalir membatasi ruang gerak berorganisasi. Apalagi dengan adanya sistem administrasi Uang Kuliah Tunggal (UKT)disebagian perguruan tinggiyang mengharuskan empat tahun lulus. Ketidakmampuan perguruan tinggi membangun kapasitas keilmuan yang secara kritis mampu memberikan banyak perspektif epistemis, berpengaruh pada kualitas mahasiswa yang dihasilkannya.

Perguruan tinggi hanya sekadar menjadi mesin pabrik yang melahirkan produk massal bernama sarjana, yang bahan mentahnya adalah mahasiswa. Perguruan tinggi juga hanya menjadi konsumen yang mengikuti selera pasar dalam menciptakan produk-produknya. Dalam konteks lain, perguruan tinggi kemudian menjadi kelompok oportunis yang dibungkus oleh legitimasi ilmiah yang demikian canggih. Sistem ini membuat kaum cendikiawan yang sejatinya memiliki nalar kritis kini seakan dibungkam. Akibatnya mahasiswa hanya dituntut lulus cepat tanpa diimbangi dengan modal intelektual yang memadai.

Hal diatas dampaknya bisa kita lihat faktanya secara langsung. Banyak mahasiswa yang setelah lulus kembali ke kampung halamannya tetapi tidak memiliki ruang aktualisasi dikarenakan miskin pengalaman. Para sarjana muda yang gugup bermasyarakat, bagaimana mau turut andil dalam memajukan bangsa. Para sarjana tidak punya kreatifitas sehingga menciptakan atau bahkan sekadar mencari pekerjaan (pengangguran). Para sarjana yang  hanya menjadi buruh-buruh yang tidak punya kuasa apa-apa setelah mereka terjun ke dunia kerja.

Transformasi Paradigma                  
                                                                
Jika hal ini terus membudaya, mahasiswa ataupun para sarjana justru turut andil memperburuk keadaan bangsa Indonesia. Bukannya menyelesaikan masalah, mereka justru bagian dari masalah. Hal ini harus segera diantisipasi dengan bertransformasi pola pikir atau paradigma. Arti transformasi disini bukan berarti mereduksi semua metode gerakan kemahasiswaan yang dulu sudah berkembang, akan tetapi lebih ditekankan pada persoalan bagaimana mengemas gerakan mahasiswa yang disesuaikan dengan perkembangan zaman.

Setiap masa memiliki zamannya masing-masing, memiliki sarana pembelajaran dan aktualisasi masing-masing, tentunya juga memiliki cara menjawab tantangan zaman dan masa depan tersendiri. Jika dahulu musuhnya kolonialisasi, sekarang adalah globalisasi. Dalam perspektif idealis, mahasiswa merupakan aset masa depan bangsa, karena mereka adalah kelompok minoritas dari masyarakatnya yang terpelajar. Mereka adalah manusia yang dididik agar menjadi intelektual yang kontributif, mampu memahami permasalahan di sekitarnya, kemudian menganalisis serta memformulasikan solusi masalah tersebut dalam bentuk nyata.

Bentuk nyata dari perjuangan melawan tirani sangatlah beragam. Salah satunya dengan turun aksi ke jalanan melakukan demonstrasi. Selagi negara ini masih menggunakan sistem demokrasi, maka demonstrasi (menyampaikan pendapat dimuka umum) hukumnya legal dan dilindungi Undang-Undang Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (Duham). Untuk menjawab kebutuhan zaman, tentunya cara konvensional (demonstrasi) ini harus diimbangi dengan hal lain yang tidak kalah pentingnya. Salah satunya yakni mengkritisi lewat budaya literasi (tulisan), di publis sehingga bisa dibaca oleh masyarakat seantero dunia.

Dalam perspektif lain, mahasiswa selain mempunyai tanggung jawab sosial (agent of social control), juga memiliki tanggung jawab personal (iron stock) yaitu orang yang digadang-gadang menjadi pemimpin negeri ini. Keduanya hasus balance, berjalan seimbang. Selain mengadvokasi kaum marginal, mahasiswa juga mempunyai tanggung jawab menyelesaikan tugas kuliah. Lebih dari itu, mahasiswa idealnya harus memiliki prestasi unggul, seperti melakukan penelitian, mampu menelurkan karya-karya menawan, bisa menghadirkan gagasan-gagasan cemerlang untuk kemanusian dan peradaban Indonesia yang lebih maju.


Pernah dipublikasikan di Buletin Kosmopolit, media milik Lembaga Kajian dan Penerbitan (LKaP) PMII Rayon Abdurrahman Wahid.

Thursday, August 31, 2017

TEORI PENDIDIKAN & KONSEP KURIKULUM

 TEORI PENDIDIKAN & KONSEP KURIKULUM*

A.           TEORI PENDIDIKAN
1.      Teori Pendidikan Klasik
Pendidikan klasik atau classical education dapat dipandang sebagai konsep pendidikan tertua. Konsep pendidikan ini bertolak dari asumsi bahwa seluruh warisan budaya, yaitu pengetahuan, ide-ide, atau nilai-nilai telah ditemukan oleh para pemikir terdahulu. Pendidikan berfungsi memelihara, mengawetkan, dan meneruskan semua warisan budaya tersebut kepada generasi berikutnya. Guru atau pendidik tidak perlu susah-susah mencari dan menciptakan pengetahuan, konsep, dan nilai-nilai baru, sebab sebelumnya telah tersedia, tinggal menguasai dan mengajarkannya kepada anak. Teori pendidikan ini lebih menekankan peranan isi pendidikan daripada proses atau bagaimana mengajarkannya.
Tugas guru dan para pengembang kurikulum adalah memilih dan menyajikan materi ilmu tersebut disesuaikan dengan tingkat perkembangan dan kemampuan peserta didik. Menurut konsep pendidikan klasik, guru atau pendidik adalah ahli dalam bidang ilmu dan juga contoh atau model nyata dari pribadi yang ideal. Siswa merupakan penerima pengajaran yang baik, tetapi sebagai penerima informasi sesungguhnya mereka pasif. Pendidik lebih menekankan perkembangan segi-segi intelektual daripada segi emosional dan psikomotor.
Ada dua model konsep pendidikan klasik, perenialisme dan esensialisme. Keduanya memiliki pandangan yang sama tentang masyarakat, bahwa masyarakat bersifat statis.
Perenialisme berkembang di Eropa dalam masyarakat aristokratis-agraris. Mereka lebih berorientasi ke masa lampau dan kurang mementingkan tuntutan-tuntutan masyarakat yang berkembang saat sekarang. Pendidikan lebih menekankan pada humanistis, pembentukan pribadi, dan sifat-sifat mental. Isi pendidikan lebih banyak bersifat pendidikan umum (general education atau liberal art), sedangkan model belajarnya adalah asimilasi. Pendidikan menurut pandangan mereka adalah bebas nilai (culture free) artinya tidak terikat atau diwarnai oleh nilai-nilai dan karakteristik masyarakat sekitar.
Esensialisme berkembang di Amerika Serikat dalam masyarakat industri. Pendidikan ini lebih mengutamakan sains daripada humanistis. Mereka lebih pragmatis, pendidikan diarahkan dalam mempersiapkan generasi muda untuk terjun ke dunia kerja. Konsep ini lebih berorientasi pada masa sekarang dan yang akan datang. Isi pengajaran lebih diarahkan kepada pembentukan keterampilan dan pengembangan kemampuan vocational.
Kurikulum pendidikan klasik lebih menekankan isi pendidikan, yang diambil dari disiplin-disiplin ilmu, disusun oleh para ahli tanpa mengikutsertakan guru-guru, apalagi siswa. Isi disusun secara logis, sistematis, dan berstruktur, dengan berpusatkan pada segi intelektual, sedikit sekali memperhatikan segi-segi sosial atau psikologis peserta didik. Guru mempunyai peranan yang sangat besar dan lebih dominan. Dalam pengajaran, ia menentukan isi, metode, dan evaluasi. Dialah yang aktif dan bertanggung jawab dalam segala aspek pengajaran. Siswa mempunyai peran yang pasif, sebagai penerima informasi dan tugas-tugas dari guru.
2.      Teknologi Pendidikan
Teknologi pendidikan mengutamakan pembentukan dan penguasaan kompetensi bukan pengawetan dan pemeliharaan budaya lama. Mereka lebih berorientasi ke masa sekarang dan yang akan datang, tidak seperti pendidikan klasik yang lebih melihat ke masa lalu.
Pendidikan teknologi pendidikan dipengaruhi dan sangat diwarnai oleh perkembangan ilmu dan teknologi. Hal itu memang sangat masuk akal, sebab teknologi pendidikan bertolak dari dan merupakan penerapan prinsip-prinsip ilmu dan teknologi dalam pendidikan. Teknologi telah masuk ke semua segi kehidupan, termasuk dalam pendidikan.
Gambaran manusia tentang dunia dan makna kehidupan merupakan sintesis dari pengalaman-pengalaman dasarnya. Pengalaman tersebut selalu berubah, hari ini lebih baik dari kemarin dan besok lebih baik daripada hari ini. Kehidupan dan perkembangan itu selalu baru.
Karena sifat ilmiahnya, konsep pendidikan ini mengutamakan segi-segi empiris, informasi objektif yang dapat diamati dan diukur serta dihitung secara statistic. Mereka kurang menghargai hal-hal yang bersifat kualitatif dan spiritual. Bagi mereka, dunia ini adalah dunia material, dunia empiris. Meskipun lebih kompleks, manusia pada dasarnya tidak berbeda dengan binatang, ia mereaksi terhadap perangsang-perangsang dari lingkungannya, perilaku dapat dibentuk dengan teknologi perilaku.
Menurut teori ini, pendidikan adalah ilmu dan bukan seni, pendidikan adalah cabang dari teknologi ilmiah. Dengan perkembangan desain program, pendidikan menjadi sangat efisien. Efisiensi merupakan salah satu ciri utama teknologi pendidikan. Dalam pengembangan desain program, mereka juga melibatkan penggunaan perangkat keras, alat-alat pandang-dengar (audio-visual) dan media elektronika. Pengembangan model-model pengajaran yang bersifat individual serta menekankan penguasaan kemampuan.
Dalam konsep teknologi pendidikan, isi disusun dalam bentuk desain program atau desain pengajaran dan disampaikan dengan menggunakan bantuan media elektronika (kaset, audio, video, film, atau computer) dan para siswa belajar secara individual. Guru berfungsi sebagai direktur belajar, lebih banyak melakukan tugas-tugas pengelolaan daripada penyampaian dan pendalaman bahan. Apabila digunakan media elektronika, guru terbebas dari tugas pengembangan segi-segi nonintelektual.
Kurikulum pendidikan teknologi menekankan kompetensi atau kemampuan-kemampuan praktis. Materi disiplin ilmu dipelajari dan termasuk dalam kurikulum, apabila hal itu mendukung penguasaan kemampuan-kemampuan tersebut. Dalam kurikulum, materi disiplin ilmu tersebut disusun terjalin dalam kemampuan. Perangkat kurikulum cukup lengkap mulai dari struktur dan sebaran mata pelajaran sampai dengan rincian bahan ajar dalam bentuk satuan pelajaran, paket belajar, modul, paket program audio, video maupun computer.
3.      Pendidikan Interaksional
Pendidikan sebagai salah satu bentuk kehidupan juga berintikan kerja sama dan interaksi. Pendidikan interaksional menekankan interaksi dua pihak, dari guru kepada siswa dan dari siswa kepada guru. Lebih luas, interaksi ini juga terjadi antara siswa dengan bahan ajar dan dengan lingkungan, antara pemikiran siswa dengan kehidupannya. Interaksi ini terjadi dari berbagai bentuk dialog.
Dalam pendidikan interaksional, belajar lebih dari sekadar mempelajari fakta-fakta. Siswa mengadakan pemahaman eksperimental dari fakta-fakta tersebut, memberikan interpretasi yang bersifat menyeluruh serta memahaminya dalam konteks kehidupannya. Setiap siswa dan guru mempunyai rentetan pengalaman dan persepsi sendiri. Dalam proses belajar, persepsi-persepsi yang berbeda tersebut digunakan untuk menyoroti masalah bersama yang muncul dalam kehidupannya. Dalam proses seperti itu dialog berlangsung, setiap siswa dan guru saling mendengarkan, memberikan pendapat, saling mengajar dan belajar. Pemahaman yang muncul dari situasi demikian melebihi jumlah seluruh sumbangan para peserta. Siswa tidak hanya berperan sebagai siswa, tetapi juga sebagai guru, dan juga pada suatu saat berperan sebagai siswa yang turut belajar bersama para siswanya.
Proses belajar dalam model interaksional terjadi melalui dialog dengan orang lain apakah dengan guru, teman, atau yang lainnya. Belajar adalah kerja sama dan saling kebergantungan dengan orang lain. Siswa belajar memperhatikan, menerima, menilai pendapat orang lain, dan belajar menyatakan pendapat dan sikapnya sendiri. Melalui interaksi tersebut muncul pengetahuan, pendapat, sikap, dan keterampilan-keterampilan baru. Guru berperan dalam menciptakan situasi dialog dengan dasar saling mempercayai dan saling membantu. Bahan ajar diambil dari lingkungan sosial-budaya yang dihadapi para siswa sekarang. Mereka diajak untuk menghayati nilai-nilai sosial-budaya yang ada di masyarakat, memberikan penilaian yang kritis, kemudian mereka mengembangkan persepsinya sendiri terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat.
4.      Rekonstruksi Sosial
Kurikulum rekonstruksi sosial berbeda dengan model-model kurikulum lainnya. Kurikulum ini lebih memusatkan perhatian pada problema yang dihadapinya dalam masyarakat. Kurikulum ini bersumber pada aliran pendidikan interaksional. Menurut kurikulum ini pendidikan bukan upaya sendiri, melainkan kegiatan bersama, interaksi, dan kerja sama. Kerja sama atau interaksi bukan hanya terjadi antara siswa dengan guru, tetapi juga antara siswa dengan siswa, siswa dengan orang-orang di lingkungannya, dan dengan sumber belajar lainnya.
Pandangan rekonstruksi sosial di dalam kurikulum dimulai sekitar tahun 1920-an. Harold Rug mulai melihat dan menyadarkan kawan-kawannya bahwa selama ini terjadi kesenjangan antara kurikulum dengan masyarakat. Ia menginginkan para siswa dengan pengetahuan dan konsep-konsep baru yang diperolehnya dapat mengidentifikasi dan memecahkan masalah-masalah sosial. Setelah diharapkan dapat menciptakan masyarakat baru yang lebih stabil.
Theodore Brameld, pada awal tahun 1950-an menyampaikan gagasannya tentang rekonstruksi sosial. Dalam masyarakat demokratis, seluruh warga masyarakat harus turut serta dalam perkembangan dana pembaruan masyarakat. Sekolah bukan saja dapat membantu individu memperkembangkan kemampuan sosialnya, tetapi juga dapat membantu bagaimana berpartisipasi sebaik-baiknya dalam kegiatan sosial.
Para rekonstruksionis sosial tidak mau terlalu menekankan kebebasan individu. Brameld juga ingin memberikan keyakinan tentang pentingnya perubahan sosial. Perubahan sosial tersebut harus dicapai melalui prosedur demokrasi. Para rekonstruksi sosial menentang intimidasi, menakut-nakuti dan kompromi semu. Mereka mendorong agar para siswa mempunyai pengetahuan yang cukup tentang masalah-masalah sosial yang mendesak (crucial) dan kerja sama atau bergotong royong untuk memecahkannya.

B.       KONSEP KURIKULUM
1.      Subjek Akademik
Model konsep kurikulum ini adalah model yang tertua, sejak masa-masa awal berdirinya sekolah, kurikulumnya mirip dengan tipe ini. Kurikulum ini sangat praktis, mudah disusun, mudah digabungkan dengan tipe lainnya. Kurikulum subjek akademis bersumber dari pendidikan klasik (perenialisme dan esensialisme) yang berorientasi pada masa lalu. Semua ilmu pengetahuan dan nilai-nilai telah ditemukan oleh para pemikir masa lalu. Fungsi pendidikan memlihara dan mewariskan hasil-hasil budaya masa lalu tersebut. Kurikulum ini  lebih mengtamakan isi pendidikan. Belajar adalah berusaha menguasai ilmu sebanyak-banyaknya. Orang yang berhasil dalam belajar adalah orang yang menguasai seluruh atau sebagian besar isi pendidikan yang diberikan atau disampaikan oleh guru.
Kurikulum subjek akademis tidak berarti hanya menekankan pada materi yang disampaikan, dalam perkembangannya secara berangsur memperhatikan proses belajar yang dilakukan siswa. Proses belajar yang dipilih sangat bergantung pada segi apa yang dipentingkan dalam materi pelajaran tersebut.
Ada tiga pendekatan dalam perkemabngan kurikulum subjek akademis. Pndekatan pertama, pendekatan struktur pengetahuan. Murid-murid belajar bagaimana memperoleh dan menguji fakta-fakta dan bukan sekadar mengingat-ingatnya. Pendekatan kedua adalah studi yang bersifat integratif. Pendekatan ini merupakan respon terhadap perkembangan masyarakat yang menuntut model-model pengetahuan yang lebih komprehensif-terpadu. Pendekatan ketiga, adalah pendekatan yang dilaksanakan pada sekolah-sekolah fundamentalis. Mereka tetap mengajar berdasarkan mata-mata pelajaran dengan menekankan membaca, manulis, dan memecahkan masalah-masalah matematis. 
Ciri-ciri kurikulum subjek akademis:
Kurikulum subjek akademis mempunyai beberapa ciri berkenaan dengan tujuan, metode, organisasi isi, dan evaluasi. Tujuan kurikulum subjek akademis adalah pemberian pengetahuan yang solid serta melatih para siswa menggunakan ide-ide dan proses “penelitian”. Dengan berpengetahuan dalam berbagai di siplin ilmu, para siswa diharapakan memiliki konsep-konsep dan cara-cara yang dapat terus dikembangkan dalam masyarakat yang lebih luas. Ide-ide diberikan guru kemudian dielaborasi (dilaksanakan) siswa sampai mereka kuasai. Konsep utama disusun secra sistematis, dengan ilustrasi yang jelas ntuk selanjutnya dikaji. Ada bebrapa pola organisasi isi (materi pelajaran) kurikulum subjek akademis. Pola-pola organisasi yang terpenting di antaranya:
a.       Correlated curriculum adalah pola organisasi materi atau konsep yang dipelajari dalam suatu pelajaran dikorelasikan dengan pelajaran lainnya.
b.      Unified atau concentrated curriculum adalah pola organisasi bahan tersusun dalam tema-tema pelajarn tertentu, yang mencakup materi dari berbagai pelajaran disiplin ilmu.
c.       Integrated curriculum. Kalau dalam unified masih tampak warna disiplin ilmunya, maka dalam pola yang integrated warna disiplin ilmu tersebut sudah tidak kelihatan lagi. Bahan ajar diintegrasikan dallam suatu persoalan, kegiatan atau segi kehidupan tertentu.
d.      Problem solving curriculum adalah pola organisasi isi yang berisi topik pemecahan masalah sosial yang dihadapi dalam kehidupan dengan menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dari berbagai mata pelajaran atau disiplin ilmu.
Tentang kegiatan evaluasi, kurikulum subjek akademis menggunakan bentuk evaluasi yang bervariasi disesuaikan dengan tujuan dan sifat mata pelajaran. Dalam bidang studi Humaniora lebih banyak digunakan bentuk uraian (essay test) daripada tes objektif. Bidang studi tersebut membutuhkan jawaban yang merefleksikan logika, koherensi, dan integrasi secara menyeluruh. Bidang studi seni yang sifatnya ekspresi membutuhkan penilaian subjektif yang jujur, di samping standar keindahan dan cita rasa.
2.      Teknologis
Sejalan dengan perkembangan ilmu dan teknologi, di bidang pendidikan berkembang pula teknologi pendidikan. Aliran ini ada persamaannya dengan pendidikan klasik, yaitu menenkankan isi kurikulum, tetapi diarahkan bukan pada pemeliharaan dan pengawetan ilmu tersebut tetapi pada penguasaan kompetensi. Suatu kompetensi yang besar diuraikan menjadi kompetensi yang lebih sempit/khusus dan akhirnya menjadi perilaku-perilaku yang dapat diamati dan diukur.
Penerapan teknologi dalam bidang pendidikan khususnya kurikulum adalah dalam dua bentuk, yaitu berbentk perangkat lunak (software) dan perangkat keras (hardware). Teknologi pendidikan dalam arti teknologi alat, lebih menekankan pada penggunaan alat-alat teknologis untuk menunjang efisiensi dan efektifitas pendidikan. Kurikulumnya berisi rencana-rencana penggunaan berbagai alat dan media, juga model-model pengajaran yang banyak melibatknn penggunnaan alat. Contoh-contoh model pengajaran tesebut adalah : pengajaran dengan bantuan film dan video, pengajaran berprogram, pengajaran dengan bantuan komputer dan lain-lain.
Dalam arti teknologi sistem, teknologi pendidiikan menekankan kepada penyusunan program pengajaran atau rencana pelajaran dengan menggunakan pendekatan sistem. Program pengajaran ini bisa semata-mata program sistem, bisa program sistem yang dipadukan dengan alat dan media pengajaran.
3.      Humanistik
Kurikulum humanistik dikembangkan oleh para ahli pendidikan humanistik. Aliran ini lebih mmemberikan tempat utama kepada siswa. Mereka bertolak dari asumsi bahwa anak atau siswa adalah yang pertama dan utama dalam pendidikan. Ia adalah subjek yang menjadi pusat kegiatan pendidikan. Mereka percaya bahwa siswa mempunyai potensi, kemampuan, dan kekuatan untuk berkembang. Para pendidik humanis berpegang pada konsep individu atau anak merupakan satu kesatuan yang menyeluruh. Pendidikan diarahkan kepada membina manusia yang utuh bukan saja segi fisik dan intelektual tetapi juga segi sosial dan efektif (emosi, sikap, perasaan, nilai, dan lain-lain).
Pandangan mereka berkembang sebagai reaksi terhadap pendidikan yang lebih menekankan segi intelektual dengan peran utama dipegang oleh guru. Pendidikan humanistik menekankan peranan siswa. Pendidikan merupakn suatu upaya untuk menciptakan situasi yang permisif, rileks, akrab. Berkat situasi tersebut anak mengembangkan segala potensi yang dimilikinya.
Pendidikan mereka lebih menekankan bagaimana mengajar siswa (mendorong siswa), dan bagaimana merasakan atau bersikap terhadap sesuatu. Tujuan pengajaran adalah memperluas kesadaran diri sendiri dan mengurangi kerenggangan dan keterasingan dari lingkungan.
4.      Rekonstruksi Sosial
1.      Desain kurikulum rekontruksi social
a.       Asumsi
Tujuan utama kurikulun rekontruksi sosial adalah menghadapkan para siswa pada tantangan, ancaman, hambatan-hambatan atau gangguan-gangguan yang dihadapi manusia. Masalah-masalah masyarakat bersifat universal dan hal ini dapat dikaji dalam kurikulum.
b.      Masalah-masalah sosial yang mendesak
Kegiatan belajar dipusatkan pada masalah-masalah sosial yang mendesak. Masalah-masalah tersebut dirumuskan dalam pertanyaan-pertanyaan yang mengundang lebih mendalam, bukan saja dari buku-buku dan kegiatan laboratorium tetapi juga dari kehidupan nyata dalam masyarakat.
c.       Pola-pola organisasi
Pada tingkat sekolah menengah, pola organisasi kurikulum disusun seperti sebuah roda. Di tengah-tengahnya sebagai poros dipilih suatu masalah yang menjadi tema utama dan dibahassecara pleno.
2.      Komponen-komponen kurikulum
a.       Tujuan dan isi kurikulum
Dalam pendidikan ekonomi-politik, kegiatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan adalah:
1)      Mengadakan survai secara kritis terhadap masyarakat
2)      Mengadakan studi tentang hubungan antara keadaan ekonomi lokal dan ekonomi nasional serta dunia
3)      Mengadakan studi tentang latar belakang historis dan kecenderungan-kecenderungan perkembangan ekonom, hubungannya dengan ekonomi lokal,
4)      Mengkaji praktik politik dalam hubungannya dengan faktor ekonomi,
5)      Memantapkan rencana perubahan praktik politik,
6)      Mengevaluasi semua rencana dengan kriteria.
b.      Metode
Dalam pengajaran rekontruksi sosial para pengembang kurikulum berusaha mencari keselarasan antara tujuan-tujuan nasional dengan tujuan siswa. Bagi rekontruksi sosial, belajar merupakan kegiatan bersama, ada kebergantungan antara seseorang dengan yang lainnya.
c.       Evaluasi
Evaluasi tidak hanya menilai apa yang telah dikuasai siswa, tapi juga menilai pengaruh kegiatan sekolah terhadap masyarakat.
3.      Pelaksanaan pengajaran rekontruksi sosial
Pengajaran rekontruksi sosial banyak dilaksanakan di daerah-daerah yang tergolong belum maju dan tingkat ekunominya belum tinggi. Pelaksanaan pengajaran ini diarahkan untuk meningkatkan kondisi kehidupan masyarakat. Sesuai dengan potensi yang ada di dalam masyarakat, sekolah mempelajari potensi-potensi tersebut, dengan bantuan biaya dari pemerintah.










Nb: A.Mualim, Fajri T.B., Hana S.M., Baihaqi, N.Rizqoh H.H., Lia L.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More