Thursday, August 31, 2017

MAKALAH HUBUNGAN AL-QUR’AN DAN HADITS DENGAN SAINS

HUBUNGAN AL-QUR’AN DAN HADITS DENGAN SAINS


MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Al-Qur’an dan IPTEK
Dosen Pengampu: Lutfiyah, S.Ag. M.S.I.



Disusun oleh:
Muhammad Yasin Yusuf        (123111022)
Durriyah Musofiyah                (123111034)
Wilda Ari Khumairoh             (123111036)
Syamsul Fathan                       (123111038)
Ali Shodiqin                            (123111049)



FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2014
I.         Pendahuluan
Al-Qur’an dan Hadits merupakan dua pedoman umat muslim yang saling berhubungan satu sama lain. Al-Qur’an tidak bisa berdiri sendiri tanpa adanya Hadits sebagai penjelas al-Qur’an yang masih bersifat global. Al-Qur'an dan Hadits sebagi petunjuk bagi manusia yang membawa berita gembira berupa pemecahan masalah yang dihadapi manusia untuk masa lalu, keadaan saat ini maupun keadaan pada masa yang akan datang, juga sarat dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dibutuhkan oleh umat manusia. Sehingga al-Qur'an dan Hadits sering disebut sebagai sumber segala ilmu pengetahuan.
Ilmu pengetahuan yang terdapat dalam al-Qur'an ada yang mudah dipahami ada juga yang memerlukan pemikiran dan pengembangan serta perenungan lebih lanjut untuk dapat dipahami. Pemahaman tentang al-Qur'an seseorang tergantung pada kecerdasan, tingkat pendidikan ilmu yang digelutinya, kemajuan ilmu pengetahuan serta kondisi sosial lingkungan sekitarnya, sehingga dari ayat yang sama mungkin saja akan memberikan tafsiran yang berbeda.
Oleh karena itu, dalam makalah  ini kami membahas hubungan al-Qur’an dan Hadits dengan sains, hubungan al-Qur’an dengan sains dan hubungan Hadits dengan sains.

II.      Hubungan Al-Qur’an dan Hadits dengan Sains
Al-Qur’an adalah mu’jizat Islam yang kekal dan mu’jizatnya selalu diperkuat dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Al-Qur’an diturunkan oleh Allah SWT. kepada Rasulullah Muhammad SAW. untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju jalan yang terang, serta membimbing mereka ke jalan yang lurus.[1]
Salah satu ciri yang membedakan Islam dengan yang lain adalah penekanannya terhadap masalah ilmu (sains). Al-Qur’an dan Hadits mengajak kaum muslim untuk mencari dan mendapatkan ilmu dan kearifan, serta menempatkan orang-orang yang berpengetahuan pada derajat yang tinggi.
Dalam  al-Qur’an kata al-‘ilm dan kata-kata jadiannya digunakan lebih dari 780 kali. Beberapa ayat pertama yang diwahyukan kepada Rasulullah SAW., menyebutkan pentingnya membaca, pena, dan ajaran untuk manusia.[2] Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-‘Alaq ayat 1-5:
ù&tø%$# ÉOó$$Î/ y7În/u Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ   t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ   ù&tø%$# y7š/uur ãPtø.F{$# ÇÌÈ   Ï%©!$# zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/ ÇÍÈ   zO¯=tæ z`»|¡SM}$# $tB óOs9 ÷Ls>÷ètƒ ÇÎÈ
 “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Tidak hanya dalam al-Qur’an saja yang membahas pentingnya ilmu pengetahuan, bahkan banyak di dalam Hadits Rasulullah SAW. juga ada pernyataan-pernyataan yang memuji ilmu dan orang yang terdidik. Sejumlah Hadits mengenai hal ini dinisbatkan kepada Nabi SAW. yang beberapa di antaranya: “Mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim”, “Carilah ilmu sampai ke negeri Cina”, “Para Ulama itu adalah pewaris Nabi”.[3]
Hal di atas menunjukkan bahwa betapa ajaran Islam sudah memperhatikan tentang pentingnya IPTEK dan menyuruh kepada kaum muslimin untuk berusaha mengembangkannya. Tentunya perkembangan IPTEK juga harus diimbangi dengan Iman dan Taqwa. Karena IPTEK yang tidak diiringi dengan Iman dan taqwa, hanya akan menyebabkan kerusakan.

III.   Hubungan Al-Qur’an dengan Sains
Sebelum al-Qur’an turun, yang menguasai ilmu itu hanyalah tokoh-tokoh agama, pemuka masyarakat, ahli hikmah dan filosof. Ilmu itu pun diwarnai khurafat yang digunakan untuk maksud-maksud tertentu, seperti untuk mengeksploitasi sesama manusia atau menipu yang bodoh.[4]
Ketika al-Qur’an datang, ilmu mempunyai tujuan mulia yaitu untuk kebaikan dan kemaslahatan manusia. Karena itu, setiap muslim diwajibkan menuntutnya. Sebagai disebutkan dalam hadits:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَ مُسْلِمَةٍ
Mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim laki-laki dan muslim perempuan.”

Dari al-Qur’an lahir berbagai cabang imu pengetahuan seperti tajwid, nahwu, sejarah, tafsir, dan sebagainya. Karena itu, dapat disebutkan bahwa al-Qur’an merupakan induk segala ilmu. Kemudian melalui orang-orang Islam, ilmu pun berkembang dan menyebar.[5]
Sifat ilmu pengetahuan adalah dapat diterima oleh rasio atau akal. Al-Qur’an memberikan penghargaan yang amat tinggi terhadap akal. Tidak sedikit ayat al-Qur’an yang menganjurkan dan mendorong manusia agar mempergunakan pikiran dan akalnya. Dengan penggunaan akal dan pikiran tersebut ilmu pengetahuan dapat diperoleh dan dikembangkan. Allah SWT. berfirman dalam surat ar-Rum: 8
öNs9urr& (#r㍩3xÿtGtƒ þÎû NÍkŦàÿRr& 3 $¨B t,n=y{ ª!$# ÏNºuq»uK¡¡9$# uÚöF{$#ur $tBur !$yJåks]øŠt/ žwÎ) Èd,ysø9$$Î/ 9@y_r&ur wK|¡B 3 ¨bÎ)ur #ZŽÏVx. z`ÏiB Ĩ$¨Z9$# Ç!$s)Î=Î/ öNÎgÎn/u tbrãÏÿ»s3s9 ÇÑÈ  
Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. dan Sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan Pertemuan dengan Tuhannya”.

Al-Qur’an sesungguhnya tidak membedakan antara ilmu agama Islam dengan ilmu umum. Yang ada dalam al-Qur’an adalah ilmu. Pembagian adanya ilmu agama Islam dan ilmu umum merupakan hasil kesimpulan manusia yang mengidentifikasi ilmu berdasarkan sumber objek kajiannya. Ilmu-ilmu tersebut seluruhnya pada hakikatnya berasal dari Allah, karena sumber-sumber ilmu tersebut berupa wahyu, alam jagat raya,  manusia dengan perilakunya, akal pikiran dan intuisi batin seluruhnya ciptaan dan anugerah Allah yang diberikan kepada manusia.[6]
Terdapat perselisihan pendapat antara para ulama yang telah lama berlangsung mengenai hubungan al-Qur’an dan sains. Dalam kitab Jawahir al-Qur’an, Imam al-Ghazali pada bab “Munculnya Ilmu-ilmu Klasik dan Modern dari al-Qur’an” menerangkan bahwa seluruh cabang ilmu pengetahuan yang terdahulu dan yang kemudian, yang telah diketahui maupun yang belum, semua bersumber dari al-Qur’an. Imam al-Suyuthi juga memiliki pandangan yang sama dengan Imam al-Ghazali.[7] Dalam bukunya al-Ithqan fi ‘Ulum al-Qur’an, beliau berpendapat bahwa al-Qur’an mencakup seluruh ilmu klasik dan modern.[8]
Dalam hal ini, perlu untuk menyebutkan bahwa motif para ulama terdahulu dalam memandang al-Qur’an sebagai sumber seluruh ilmu itu lahir dari keyakinan terhadap komprehensifnya al-Qur’an. Akan tetapi, para ulama sekarang, di samping meyakini hal ini, mereka lebih menekankan pembuktian akan keajaiban al-Qur’an dalam bidang keilmuaan. Oleh karena itu, mereka mencoba mencocokkan al-Qur’an dengan penemuan-penemuan sains kontemporer.[9]
Al-Qur’an semakin laris dikaji oleh para ilmuwan terutama masyarakat nonmuslim. Terbukti, al-Qur’an banyak memberikan informasi tentang IPTEK yang semakin hari semakin nyata lewat kajian dan percobaan yang mengagumkan. Sebagai contoh, hasil percobaan pemotretan atas pegunungan di Nejed (Arab Saudi) oleh Telster (Satelit Amerika Serikat) ternyata diketahui bahwa gunung-gunung yang tampak di mata kita seolah tetap, sesungguhnya gunung-gunung itu berarak sebagaimana mega. Firman Allah SWT dalam surat an-Naml: 88.
ts?ur tA$t7Ågø:$# $pkâ:|¡øtrB ZoyÏB%y` }Édur ßJs? §tB É>$ys¡¡9$# 4 yì÷Yß¹ «!$# üÏ%©!$# z`s)ø?r& ¨@ä. >äóÓx« 4 ¼çm¯RÎ) 7ŽÎ7yz $yJÎ/ šcqè=yèøÿs? ÇÑÑÈ  
“Dan kamu Lihat gunung-gunung itu, kamu sangka Dia tetap di tempatnya, Padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Jangkau pengamatan empirik dan rasio kita terlalu lemah, dan akal kita tidak mampu mencerna bahwa gunung-gunung sedahsyat itu yang tertancap di bumi, dikatakan dalam al-Qur’an berjalan sebagaimana awan. Tetapi ternyata hal itu kini telah dibuktikan oleh IPTEK sebagai perpanjangan pengamatan manusia.
Memang begitulah kehendak Allah  terhadap gunung-gunung, karena semua isi alam ini milik Allah, dan tunduk di bawah perintah-Nya. Manusia wajib menerima dengan penuh keimanan semua isi al-Qur’an yang menyangkut IPTEK, baik itu sudah terbukti atau belum.  Manusia dan IPTEK masih harus bekerja keras untuk membuktikan formula-formula al-Qur’an. Kitab ini memang sungguh tidak akan ada habisnya menyajikan ilmu Allah itu. IPTEK menjelaskan fenomena alam semesta, dan alam semesta membuktikan kebenaran al-Qur’an.[10]
Sebagian dari ulama berpendapat bahwa tidak ada penemuan baru sains yang tidak diramalkan oleh al-Qur’an. Misalnya, al-Thanthawi, dalam tafsir al-Qur’annya, mencoba menyarikan hasil-hasil ilmu kealaman dari al-Qur’an dan ia takut tidak bisa hidup cukup lama untuk menempatkan seluruh penemuan sains dan teknologi di dalam al-Qur’an. Namun, beliau berbahagia karena penemuan-penemuan sains sampai sekarang massih menunjukkan kekuatan profetis al-Qur’an.[11]

IV.   Hubungan Hadits dengan Sains
Hadits merupakan sumber kedua setelah al-Qur’an bagi fiqih dan hukum Islam. Hadits juga merupakan sumber bagi da’wah dan bimbingan bagi seorang muslim, ia juga merupakan sumber ilmu pengetahuan religius (keagamaan), dan sosial yang dibutuhkna umat manusia untuk meluruskan jalan mereka, membetulkan kesalahan mereka ataupun melengkapi pengetahuan eksperimental mereka.
Seperti al-Qur’an, Hadits juga mengandung informasi tentang beberapa hakikat yang berkaitan dengan masalah-masalah ghaib, suatu alam yang tidak dapat kita lihat dan tidak juga dapat ditangkap oleh panca indra kita yang lain. Masalah-masalah ini tidak dapat kita ketahui melainkan dengan bantuan wahyu ilahi.
Seluruh umat Islam setuju bahwa Hadits merupakan sumber pengetahuan. Mereka telah mendapatkan bukti-bukti akurat bahwa Nabi Muhammad SAW. adalah utusan Allah yang menerima wahyu dari-Nya. Beliau tidak berbicara berdasarkan hawa nafsunya, tidak berucap dari Allah kecuali benar. Beliau tidak pernah mengatakan dari Allah mengenai apapun yang tidak diketahuinya. Beliau juga tidak mengetahui perkara ghaib melainkan perkara yang telah diajarkan Allah kepada beliau.
Letak perbedaan pendapat dalam masalah ini adalah mengenai persoalan penetapan sahihnya suatu hadis yang diriwayatkan dari Nabi SAW., yaitu mengenai Hadits yang secara pasti (qath’i) memang sahih adanya dan konsekuensinya mesti diyakini secara ideologis sebagai akidah.
Pengetahuan mendasar dari Hadits bukanlah ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan berbagai aspek kehidupan yang dinamis, yang diperoleh berdasarkan observasi dan eksperimen. Ilmu pengetahuan yang demikian ini dapat dipelajari manusia dengan melalui proses uji coba secara terus-menerus.[12]
Ilmu pengetahuan yang diserukan Islam dan dianjurkan oleh Hadits adalah ilmu yang didasarkan pada pembuktian, karena itu taqlid tidak dianggap ilmu dalam Islam, sebab ia hanya mengikuti pendapat orang lain tanpa argumen. Dengan begitu, ilmu dalam Islam itu meliputi suau bidang yang sangat luas, tidak dapat ditampung oleh istilah “ilmu” yang kini di dunia Barat modern.
Ilmu dalam Islam meliputi perkara metafisika yang disampaikan oleh wahyu yang mengungkapkan berbagai hakikat wujud yang agung dan menjawab berbagai persoalan rumit yang tetap tak terjawab sejak manusia mulai berpikir dan berfilsafat. Inilah arti kata “ilmu” yang utama, bahkan Imam Ibnu Abdul Barr menyebutnya sebagai “ilmu tertinggi”.
Ilmu itu mencakup bidang kemanusiaan yaitu kajian-kajian tentang manusia yang membahas aspek-aspek kehidupannya, hubungannya dengan dimensi ruang, waktu, diri, masyarakat, ekonomi, politik, dan lain-lain yang menjadi perhatian ilmu-ilmu kemanusiaan (humaniora) dan ilmu-ilmu sosial. Aspek material juga menjadi salah satu cakupan ilmu yang sangat penting, meliputi benda-benda di angkasa raya dan dalam perut bumi. Inilah bidang yang ditekuni oleh orang Barat dewasa ini dan mereka hanya berhenti pada aspek ini,. Dan inilah arti “ilmu” bagi mereka, karena bidang inilah merupakan satu-satunya yang tunduk pada pengujian, ukuran, pengamatan, dan percobaan serta dapat di tes dalam laboratorium.
Ilmu dalam Islam tidak hanya berhenti pada batas ini yang sekadar mengkaji obyek-obyek bendawi. Islam juga tidak menganggap ilmu ini bertentangan dengan iman sebagaimana agama-agama lain menganggapnya dalam periode tertentu perjalanan sejarah mereka.[13]
Contoh bukti Hadits Nabi SAW sebagai sumber ilmu pengetahuan salah satunya yaitu khasiat zaitun. Nabi bersabda:
كُلُوْا الزَّيْتَ وَادَّهِنُوْا بِهِ فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ                                        
“Makanlah zaitun (sebagai lauk bersama roti) dan berminyaklah dengannya, sesungguhnya ia berasal dari pohon yang diberkahi.”
Hadits Nabi ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dalam Sunan-nya (Kitab Al-Ath’imah). Dalam hadits ini menjelaskan bahwa buah zaitun dan minyaknya memiliki khasiat dan juga berasal dari pohon yang diberkahi.
Zaitun (sebagai buah) dan minyak zaitun telah disebutkan dalam al-Qura’n sebanyak tujuh kali. Pohon zaitun sudah dikenal sejak peradaban-peradaban kuno sebagai salah satu tumbuhan minyak terpenting. Riset terbaru membuktikan bahwa kandungan asam lemak minyak zaitun sangat sedikit sekali, bahkan lemak yang dikandungnya bukanlah lemak yang mengenyangkan. Oleh karena itu, minyak ini mengandung nilai kesehatan yang tinggi sekali.
Melalui serangkaian penelitian dan percobaan yang rumit terbukti bahwa mengkonsumsi minyak zaitun dengan teratur memberi andil yang efektif untuk mencegah berbagai macam penyakit. Diantaranya, penyumbatan pembuluh darah coroner (jantung koroner), peningkatan kadar lemak berbahaya dalam darah, tekanan darah tinggi, kencing batu, dan beberapa kanker (seperti kanker perut, kolon, payudara, rahim, dan kulit). Minyak zaitun juga dapat digunakan untuk mencegah pemborokan system pencernaan (ulcer of the stomach).[14]

V.      Penutup
A.                Kesimpulan
Banyak dalil-dalil dalam Al-Qur’an dan Hadits yang mengajak kaum muslim untuk mencari dan mendapatkan ilmu dan kearifan, serta menempatkan orang-orang yang berpengetahuan pada derajat yang tinggi. Ajaran Islam memperhatikan tentang pentingnya IPTEK dan menyuruh kepada kaum muslimin untuk berusaha mengembangkannya. Tentunya perkembangan IPTEK juga harus diimbangi dengan Iman dan Taqwa.
Al-Qur’an semakin laris dikaji oleh para ilmuwan terutama masyarakat nonmuslim. Terbukti, al-Qur’an banyak memberikan informasi tentang IPTEK yang semakin hari semakin nyata lewat kajian dan percobaan yang mengagumkan. Sebagai contoh, hasil percobaan pemotretan atas pegunungan di Nejed (Arab Saudi) oleh Telster (Satelit Amerika Serikat).
Hadits merupakan sumber kedua setelah al-Qur’an bagi fiqih dan hukum Islam. Hadits juga merupakan sumber bagi da’wah dan bimbingan bagi seorang muslim, ia juga merupakan sumber ilmu pengetahuan religius (keagamaan), dan sosial yang dibutuhkna umat manusia untuk meluruskan jalan mereka, membetulkan kesalahan mereka ataupun melengkapi pengetahuan eksperimental mereka. Sebagai contoh hadits sebagai sumber ilmu pengetahuan yaitu buah zaitun dan minyaknya.
B.                 Saran
Demikianlah makalah yang dapat kami susun. Semoga bermanfaat bagi pembaca dan pemakalah sendiri. Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam menyusun, maupun dalam menyampaikan makalah ini. Maka dari itu kritik dan saran yang membangun dari semua pihak tentu kami butuhkan demi memperbaiki makalah kami berikutnya. Terima kasih.

DAFTAR PUSTAKA

Abuddin Nata, Abuddin. 1994. Al-Qur’an dan Hadits. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Al-Math, Muhammad Faiz. 1994. Keistimewaan-keistimewaan Islam. Terj. oleh: Masykur Halim, Ubaidillah. Jakarta: Gema Insani Press.
Al-Qardhawy, Yusuf. 1998. As-Sunnah Sebagai Sumber IPTEK dan Peradaban. terj. oleh: Setiawan Budi Utomo. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Al-Zindani, Abdul Majid bin Aziz, dkk. 1997. Mukjizat Al-Qur’an dan As-Sunnah tentang Iptek. Jakarta: Gema Insani Press.
An-Najar, Zaghlul. 2011. Sains dalam Hadis Mengungkap Fakta Ilmiah dari Kemukjizatan Hadis Nabi. Jakarta: Amzah.
AS, Mudakir. 2007. Studi Ilmu-ilmu Qur’an. Bogor : Pustaka Litera antarNusa. cet. 10.
Golshani, Mehdi. 2003. Filsafat Sains Menurut Al-Qur’an. Terj. oleh: Agus Effendi. Bandung: Mizan.
Nata, Abuddin, dkk. 2005. Integrasi Ilmu Agama dan Ilmu Umum. Jakarta: Raja Grafindo.
Shihab, M. Quraish, 1992. Membumikan Al-Qur’an. Bandung: Mizan Pustaka.


[1]Mudakir AS, Studi Ilmu-ilmu Qur’an, (Bogor : Pustaka Litera antarNusa, cet. 10, 2007), hlm. 1.

[2]Mehdi Golshani, Filsafat Sains menurut Al-Qur’an, terj. oleh: Agus Effendi, (Bandung: Mizan,  2003), hlm. 1.
[3]Abuddin Nata, Al-Qur’an dan Hadits, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1994), hlm. 176.
[4]Muhammad Faiz Al-Math, Keistimewaan-keistimewaan Islam, terj. oleh: Masykur Halim, Ubaidillah, (Jakarta: Gema Insani Press, 1994), hlm. 52.
[5]Muhammad Faiz Al-Math, Keistimewaan-keistimewaan Islam, terj. oleh: Masykur Halim, Ubaidillah,.........., hlm. 54.
[6]Abuddin Nata, dkk., Integrasi Ilmu Agama dan Ilmu Umum, (Jakarta: Raja Grafindo, 2005), hlm. 52.
[7]M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an, (Bandung: Mizan Pustaka, 1992), hlm. 58.
[8]Mehdi Golshani, Filsafat Sains menurut Al-Qur’an, terj. oleh: Agus Effendi,......., hlm. 55.
[9]Mehdi Golshani, Filsafat Sains menurut Al-Qur’an, terj. oleh: Agus Effendi,......., hlm. 57.
[10]Abdul Majid bin Aziz al-Zindani, dkk., Mukjizat Al-Qur’an dan As-Sunnah tentang Iptek,  (Jakarta: Gema Insani Press, 1997), hlm. 41.
[11]Mehdi Golshani, Filsafat Sains Menurut Al-Qur’an, terj. oleh: Agus Effendi,......., hlm. 57.
[12]Yusuf Al-Qardhawy, As-Sunnah Sebagai Sumber IPTEK dan Peradaban, terj. oleh: Setiawan Budi Utomo, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 1998), hlm. 101-103.
[13]Yusuf Al-Qardhawy, As-Sunnah Sebagai Sumber IPTEK dan Peradaban, terj. oleh: Setiawan Budi Utomo,......., hlm. 220-221.
[14]Zaghlul An-Najar, Sains dalam Hadis Mengungkap Fakta Ilmiah dari Kemukjizatan Hadis Nabi, (Jakarta: Amzah, 2011), hlm. 232.

2 komentar:


Bosan tidak tahu mau mengerjakan apa pada saat santai, ayo segera uji keberuntungan kalian
hanya di D*EW*A*P*K / pin bb D87604A1
dengan hanya minimal deposit 10.000 kalian bisa memenangkan uang jutaan rupiah
dapatkan juga bonus rollingan 0.3% dan refferal 10% :)

ingin mendapatkan uang banyak dengan cara cepat ayo segera bergabung dengan kami di f4n5p0k3r
Promo Fans**poker saat ini :
- Bonus Freechips 5.000 - 10.000 setiap hari (1 hari dibagikan 1 kali) hanya dengan minimal deposit 50.000 dan minimal deposit 100.000 ke atas
- Bonus Cashback 0.5% dibagikan Setiap Senin
- Bonus Referal 20% Seumur Hidup dibagikan Setiap Kamis
Ayo di tunggu apa lagi Segera bergabung ya, di tunggu lo ^.^

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More