Thursday, August 31, 2017

Makalah Matahari dalam Perspektif Alquran dan IPTEK

MATAHARI

Makalah
Disusun guna memenuti tugas
Mata Kuliah: Al-Qur’an dan IPTEK
Dosen pengampu: Lutfiyah S.Ag M.Si



Disusun Oleh Kelas PAI 3A:
Fatchiyatur Rohmah               (133111019)
Khairul Anam                         (133111038)
M. Khoirul Anam                    (133111039)
Rahma Komala                       (133111040)
Nur Aziz                                 (133111159)
Direvisi: Baihaqi An Nizar   (133111013)


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN (FITK)
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) WALISONGO
SEMARANG
2014
I.                   PENDAHULUAN
Penciptaan alam semesta termasuksalah satu perkara yang sangat penting tidak hanya dalam bidang pemikiran Islam, akan tetapi juga dalam ilmu pengetahuan kosmologi. Dalam rekaman sejarah pemikiran Islam persoalan ini telah jadi bahan polemik yang terkadang amat keras dan tajam.
Alam semesta merupakan sebuah bukti kebesaran Tuhan, karena penciptaan alam semesta dari ketiadaan memerlukan adanya sang pencipta Yang Maha Kuasa. Tuhan telah menciptakan alam untuk manusia dan telah menyatakan tentang penciptaan alam semesta dalam ayat-ayatnya,. Meskipun demikian Al Qur’an bukan buku kosmologi atau biologi, sebab ia menyatakan bagian-bagian yang sangat penting saja dari ilmu-ilmu yang dimaksud.
     
II.                RUMUSAN MASALAH
A.    Bagaimana Konsepsi Matahari Menurut Iptek?
B.     Bagaimana Konsepsi Matahari Menurut Al-Qur’an?

III.             PEMBAHASAN
A.    Konsepsi Matahari Menurut Iptek
Matahari adalah sumber energi untuk mempertahankan kehidupan di bumi, jika kita memandang matahari ketika terbit dan terbenam atau melalui lapisan awan, maka matahari tampak seperti piringan yang pinggirannya jelas, piringan matahari yang tampak inilah yang disebut fotosfer dan dalam fotosfer terdapat noda-noda hitam yang sering dinamakan area cotosfer yang dingin. Galileo mengamati matahari dan mendapati bahwa diameter matahari 14 x 105 km atau 109 kali bumi, massa matahari 333.400 kali massa bumi atau secara pendekatan 1,99 x 1030 kg, garis lintang matahari 23,5o U yang disebut tropis cancer atau garis balik utara dan lintang 23,5o S yang  disebut tropis capricorn atau garis balik selatan.
Energi matahari diciptakan dari bagian inti dari matahari, kemudian dijalarkan ke permukaan dan diradiasikan ke dalam ruang angkasa. Sekitar 99% radiasi elektromagnetik yang diemisikan oleh matahari  terletak pada daerah 0,15 dan 4,0 µn. Distribusi spektral energi ini adalah 9% ultraviolet, 45% radiasi tampak dan 46% inframerah, energi ini dijalarkan ke permukaan bumi dalam bentuk radiasi elektromagnetik.
Sebagian energi tersebut ditransmisikan ke bumi dengan cara radiasi gelombang elektromagnetik. Peristiwa ini akan berhenti jika hidrogen dalam reaksi inti (nuklir) menjadi habis. Proses pengubahan hidrogen menjadi helium dalam reaksi  inti disebut reaksi rantai proton-proton (rantai PP). Diperkirakan radiasi matahari dapat berlangsung sampai sekitar 10 milyar tahun. Energi pada matahari mampu menciptakan 10 ribu siklon, 100 juta badai guruh (petir), 100 milyar tornado.[1]
Para tokoh astronomi seperti galileo galilei, tycho brahe, Johannes keppler menemukan bahwa matahari itu berjari-jari 696.000 km, kerapatan rata-rata 1,4 gr/cm3  jarak dari bumi 150 juta km periode rotasi di ekuator 26 hari, percepatan gravitasi di permukaan 274 m/det2, suhu permukaan 6000 oC.[2]

B.     Konsepsi Matahari Menurut Al-Qur’an
Sebelum sampai kepembahasan matahari sebagai sumber energi menurut Al-Qur’an, alangkah baiknya dijelaskan terlebih dahulu pengertian tentang energi. Energi yang dimaksudkan di dalam pembahasan ini adalah segala macam bentuk tenaga yang diperlukan oleh manusia untuk dapat mempertahankan hidupnya.[3]
Berdasarkan pengertian energi di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa manusia hidup tidak akan terlepas dari kebutuhan energi selama hidupnya. Energi yang dibutuhkan manusia ada dua macam yaitu energi internal dan eksternal. Energi internal yaitu energi yang diperlukan oleh tubuh manusia agar dirinya dapat bergerak atau melakukan kerja, berpikir, berbicara dan segala macam aktivitas manusia yang menandakan bahwa manusia masih hidup. Energi eksternal yaitu energi yang berada di luar tubuh manusia  yang diperlukan untuk menghangatkan tubuh pada musim dingin, menggerakkan peralatan (alat bantu) dalam rangka menunjang kehidupan manusia.[4]
Dalam bab ini akan sedikit menguraikan tentang energi eksternal yaitu energi yang terdapat dalam matahari dalam konteks perspektif Al-Qur’an. Al Qur’an tidak secara gamblang menyebutkan energi yang ada dalam matahari, namun tersirat bahwa matahari memiliki energi bahkan menjadi sumber energi.
$uZøŠt^t/ur öNä3s%öqsù $Yèö7y #YŠ#yÏ© ÇÊËÈ   $uZù=yèy_ur %[`#uŽÅ  %[`$¨dur ÇÊÌÈ  
“dan Kami membangun di atas kamu tujuh (langit) yang kokoh, dan Kami menjadikan pelita yang terang-benderang (matahari)” (QS. An Naba’:12-13)
 Seperti kita ketahui, satu-satunya sumber cahaya di tata surya adalah matahari. Dengan kemajuan teknologi, astronom menemukan bahwa bulan bukan merupakan sumber cahaya akan tetapi hanya memantulkan sinar dari Matahari.
Ungkapan "pelita" dalam ayat di atas adalah terjemahan dari kata Arab "sirajan," yang paling sempurna menggambarkan matahari sebagai sumber cahaya dan panas. Dalam Al Qur'an Allah menggunakan kata yang berbeda ketika mengacu pada benda langit seperti bulan, matahari dan bintang-bintang.[5] Hal tersebut menerangkan bagaimana perbedaan antara struktur Matahari dan Bulan dinyatakan dalam Al-Qur'an:
óOs9r& (#÷rts? y#øx. t,n=y{ ª!$# yìö7y ;Nºuq»yJy $]%$t7ÏÛ ÇÊÎÈ   Ÿ@yèy_ur tyJs)ø9$# £`ÍkŽÏù #YqçR Ÿ@yèy_ur }§ôJ¤±9$# %[`#uŽÅ  ÇÊÏÈ  
Tidakkah kamu melihat bagaimana Dia menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, dan ditempatkan bulan sebagai cahaya di dalamnya dan membuat matahari pelita (yang cemerlang)? (Al Qur'an, 71:15-16)
 Dalam ayat di atas, kata "cahaya" digunakan untuk Bulan ("nooran"  dalam bahasa Arab) dan kata"lampu" untuk matahari ("sirajan" dalam bahasa Arab.) Kata yang digunakan untuk Bulan mengacu pada cahaya mencerminkan, cerah, tubuh bergerak. Kata yang digunakan untuk matahari mengacu pada benda angkasa yang selalu terbakar, sumber konstan panas dan cahaya.
Di sisi lain, kata "bintang" berasal dari akar kata bahasa Arab "nejeme," yang berarti "muncul, muncul, terlihat." Seperti dalam ayat berikut ini, bintang juga disebut dengan kata "thaqib," yang digunakan untuk yang bersinar dan menembus kegelapan dengan cahaya: memakan sendiri dan pembakaran:
ãNôf¨Y9$# Ü=Ï%$¨W9$# ÇÌÈ  
"yaitu bintang yang menembus kegelapan!" (Al Qur'an, 86:3)
 Sekarang tahu bahwa Bulan tidak memancarkan cahaya sendiri tetapi memantulkan sinar dari matahari sedangkan matahari dan bintang-bintang memancarkan cahaya mereka sendiri. Fakta ini terungkap dalam Al Qur'an di zaman ketika manusia tidak memiliki sarana untuk membuat penemuan ilmiah atas kemauan sendiri. Dan pengetahuan manusia tentang benda langit masih terbatas. Hal ini semakin menekankan kemu’jizatan dari Al Qur’an.
Berikut ayat Al-Qur’an yang lebih banyak mengenai matahari, yang artinya :
96. Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui.

5. Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak[669]. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.

2. Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini Pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.

33. dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang.

12. dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (Nya),

13. dan Kami jadikan pelita yang Amat terang (matahari),
                                                                           
61. Maha suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya.
16. dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita?
38. dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui.

DAFTAR PUSTAKA
Admiranto, Gunawan, menjelajah tata surya, Yogyakarta, Kanisius Media, 2009
Arya wardhana, Wisnu, Al qur’an dan Energi Nuklir, Yogyakarta, Pustaka pelajar, 2004
Arya wardhana, Wisnu, Melacak Teori Einstein dalam Al-qur`an, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2009
Hadhiri, Choiruddin, Klasifikasi Kadungan Al-qur`an, Jakarta, Gema Insani, 2005
Tjasyono, Bayong, ilmu kebumian dan antariksa, Bandung, Rosdakarya, 2013




[1] Bayong tjasyono, ilmu kebumian dan antariksa, (Bandung, rosdakarya, 2013) hlm.59-72
[2] Gunawan Admiranto menjelajah tata surya, (Yogyakarta, kanisius media, 2009) hlm. 23
[3] Wisnu Arya wardhana, Al qur’an dan Energi Nuklir, yogyakarta: Pustaka pelajar, 2004, hlm. 93
[4] Ibid, hlm. 94-95

0 komentar:

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More