Thursday, August 31, 2017

MAKALAH TENTANG SEMUT DALAM PERSPEKTIF ALQURAN DAN IPTEK

SEMUT

TUGAS
Disusun guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Al-Qur’an dan IPTEK
Dosen pengampu: Lutfiyah, M.Ag








Disusun Oleh :
1.      Anieq Nihlah                           (133111071)
2.      Nur Hidayah                           (133111072)
3.      Laila Romdhoningsih              (133111073)
4.      Mukholis Amir                        (133111074)
5.      Rizky Ainur Rofiq                  (133111075)

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2014
I.                   PENDAHULUAN
Semut merupakan hewan kecil, hewan merayap yang hidup di tengah – tengah masyarakat, dan semut merupakan hewan yang mudah diinjak oleh siapapun. Oleh karena itu kebanyakan semut hanya berumur 40 – 60 hari saja. Meskipun demikian semut memiliki bayak keistimewaan, seperti yang telah di cantumkan dalam Al – Qur’an yaitu surat An – Naml yang berarti semut, di dalamnya menyajikan kisah – kisah semut, salah satunya adalah kisah Nabi Sulaiman a.s. dengan semut. Cara hidup semut dapat ditiru dan diterapkan dalam kehidupan sehari – hari, misalnya sikap pantang menyerah, saling tolong menolong, rajin, giat bekerja, dan sebagainya. Oleh karena itu, di dalam makalah ini, kami akan menguraikan beberapa hal mengenai semut.

II.                PEMBAHASAN
A.    Pandangan IPTEK Mengenai Semut
Semut merupakan kelompok serangga yang berasal dari keluarga Formisidae dan semut termasuk dalam ordo Himenoptera bersama dengan lebah dan tawon. Semut memiliki 12.000 spesies, sebagian besar semut hidup di kawasan tropika, Semut dikenal sebagai hewan/ serangga sosial dengan koloni dan sarang – sarangnya yang teratur beranggotakan ribuan semut / koloni. Anggota koloni yaitu :
1.      Semut pekerja
2.      Semut pejantan
3.      Ratu semut
Satu koloni, dapat menguasai daerah yang luas untuk mendukung kehidupan mereka, Koloni semut kadangkala disebut dengan Superorganisme yang membentuk sebuah satu kesatuan. Semut merupakan hewan terkuat di dunia, semut jantan mampu menopang dengan 50 kali dari berat badannya sendiri, sedangkan gajah hanya mampu menopang 2 kali dari berat badannya. Ini membuktikan bahwa semut lebih kuat dibanding dengan hewan yang badannya lebih besar daripada semut.
      Semut memiliki frekuensi suara yang bervariasi, mereka mampu meredam suara yang berbeda terhadap semut lainnya. Hasil penelitian membuktikan bahwa semut dapat mengalahkan manusia dalam indra pendengaran, hal tersebut dikarenakan semut menggunakan antenna untuk transmisi dan menerima frekuensi suara, dan semut menggunakan sinyal suara yang besar, seperti perangkat penerima suara modern saat ini, namun dapat langsung hilang dan berubah oleh berbagai efek apapun dalam proses penyaringan atau pemurnian suara.
B.     Hubungan Semut dengan Al – Qur’an
Di dalam kitab suci Al – Qur’an terdapat kisah antara semut dengan Nabi Sulaiman a.s. Di dalam al – qur’an menyatakan bahwa semut dapat berbicara, seperti firman-Nya (Q.S. An-Naml : 18) yaitu :
#Ó¨Lym !#sŒÎ) (#öqs?r& 4n?tã ÏŠ#ur È@ôJ¨Y9$# ôMs9$s% ×'s#ôJtR $ygƒr'¯»tƒ ã@ôJ¨Y9$# (#qè=äz÷Š$# öNà6uZÅ3»|¡tB Ÿw öNä3¨ZyJÏÜøts ß`»yJøŠn=ß ¼çnߊqãZã_ur óOèdur Ÿw tbrããèô±o ÇÊÑÈ  
Artinya ; Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: “Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari".
Ayat ini menggugah akal untuk memperhatikan struktur dan pengaturan kepemimpinan yang rapi dan baik. Semut menyeru dan mengumpulkan kawan – kawannya untuk menunjukkan bagaimana ia memimpin dan mengatur segala urusannya. Mereka telah melakukan seperti apa yang dilakukan oleh para raja yang mengatur dan memimpin sebagaimana pemerintah memimpin para rakyatnya.[1]
Fakta bahwa semut dapat berbicara telah dinyatakan kurang lebih sekitar 1400 tahun lalu, dan secara mengagumkan, penemuan – penemuan ini sangat sesuai dengan penemuan – penemuan ilmiah saat ini. Pada 6 Febuari 2009 telah terbit Science Magazine yang menuliskan sebuah hasil penelitian ilmiah mengenai semut, di dalamnya menyatakan bahwa semut dapat bersuara.
Kemajuan teknologi audio telah memungkin para ilmuan menemukan bahwa semut sering berbicara kepada sesame kaumnya dalam sarang mereka. Sebagian besar, semut memuliki semacam papan alami dan plectrum yang terdapat dalam perut mereka yang dapat mengeluarkan suara sebagai media untuk berkomunikasi dengan sesamanya.
Para peneliti, menyatakan bahwa ratu semut dapat mengeluarkan instruksi kepada para pekerja. Para penelitipun heran, yang berhasil membuat rekaman pertama dari semut ratu “berbicara”, juga menemukan bahwa serangga lain pun meniru hal yang sama persis yaitu kupu – kupu besar Rebel, hewan yang memiliki hubungan parasit dengan semut dan sekarang ditemukan telah belajar untuk meniru suara dengan menggunakan sinyal kimia.
Larva kupu – kupu dibawa oleh semut ke sarang dimana mereka diberi makan oleh para pekerja. Ketika koloni terganggu, semut akan menyelamatkan larva, bahkan jika mereka kekurangan makanan, semut akan mengorbankan dirinya untuk menjadi santapan. Hasil penelitian beberapa dekade lalu telah menunjukkan bahwa semut mampu membuat panggilan menggunakan alarm berbunyi.
Jeremy Thomas, mengatakan bahwa kemajuan teknologi telah memungkinkan penemuan baru, hal itu karena komunikasi semut bisa direkam secara subjektif. Dengan menempatkan speaker mini  ke sarang semut tersebut dan memutar ulang suara yang dibuat oleh ratu, para peneliti mampu menarik perhatian semut dan membuat mereka bersiap siaga, mereka bergerak dan berdiri sambil mengeluarkan antenna mereka ke depan dan rahang (capit) mereka terbuka selama berjam – jam. Siapa saja makhluk asing yang berada di dekatnya, maka mereka akan menyerangnya. Setiap koloni semut memiliki suara yang berbeda dan dapat menimbulkan reaksi yang berbeda pula.
Penemuan ini mungkin bukanlah hal yang aneh di era kemajuan teknologi seperti sekarang ini, namun akan menjadi luar biasa dimana ketika penemuan ini telah disinggung sekitar 1400 tahun yang lalu, dimana teknologi amatlah terbatas. Tidaklah mungkin hal itu terjadi kecuali dengan kebesaran Allah SWT dan keotentikan Al – Qur’an.




C.    Kemukjizatan Semut
Terkait hal ini, Allah SWT berfirman :
uŽÅ³ãmur z`»yJøn=Ý¡Ï9 ¼çnߊqãZã_ z`ÏB Çd`Éfø9$# ħRM}$#ur ÎŽö©Ü9$#ur ôMßgsù tbqããyqムÇÊÐÈ   #Ó¨Lym !#sŒÎ) (#öqs?r& 4n?tã ÏŠ#ur È@ôJ¨Y9$# ôMs9$s% ×'s#ôJtR $ygƒr'¯»tƒ ã@ôJ¨Y9$# (#qè=äz÷Š$# öNà6uZÅ3»|¡tB Ÿw öNä3¨ZyJÏÜøts ß`»yJøŠn=ß ¼çnߊqãZã_ur óOèdur Ÿw tbrããèô±o ÇÊÑÈ   zO¡¡t6tGsù %Z3Ïm$|Ê `ÏiB $ygÏ9öqs% tA$s%ur Éb>u ûÓÍ_ôãÎ÷rr& ÷br& tä3ô©r& štFyJ÷èÏR ûÓÉL©9$# |MôJyè÷Rr& ¥n?tã 4n?tãur žt$Î!ºur ÷br&ur Ÿ@uHùår& $[sÎ=»|¹ çm8|Êös? ÓÍ_ù=Åz÷Šr&ur y7ÏGpHôqtÎ/ Îû x8ÏŠ$t7Ïã šúüÅsÎ=»¢Á9$# ÇÊÒÈ  
Artinya : “ Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan).”
Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari".
Maka Dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. dan Dia berdoa: "Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh". (QS. An-Naml : 17 – 19).
            Disebut sarang semut, karena sebagian besar yang ada pada lembah tersebut adalah semut. Seperti ungkapan orang Arab, “Lembah si Fulan” berarti bahwa sebagian besar orang yang ada di lembah tersebut anak keturunan fulan. Ditambahnya ‘ala (di) bisa jadi karena kedatangan Nabi Sulaiman dan pasukannya dari atas atau melintasi lembah tersebut. Ada yang mengatakan lembah tersebut berada di Syam karena lembahnya yang banyak ditemui semut.
            Sementara menurut Ka’ab, lembah tersebut ada di Thaif. Ada juga yang mengatakan berada di Yaman. Tapi semua itu tidak terlalu penting karena yang menjadi fokus perhatian adalah kata, bukan tempat. Disebut namlah karena semut itu terkenal bersih, terkenal juga sifatnya yang banyak bergerak dan jarang diam.
            Kata Naml diacu pada binatang yang berkembang menjadi jenis serangga. Jenisnya mencapai 9.000. Ukuran semut beragam, ada semut kecil yang hampir tidak bisa kelihatan dengan mata telanjang. Ada juga yang berukuran besar. Disamping itu, warna dan bentuknya pun beragam seperti perbedaan dalam ukuran kerajaan semut sendiri terdiri dari ;
1.      Ratu semut, yaitu semut betina yang subur (tidak mandul). Fungsinya mengeluarkan telur dan mengatur ketentuan kerajaan.
2.      Pekerja, yaitu semut – semut betina yang mandul. Tugasnya melakukan semua pekerjaan di kerajaan semut dengan membagi – bagikan makanan sesuai ketentuan.
3.      Pasukan, yaitu semut – semut jantan yang menjadi pasukan kerajaan
4.      Pejantan, yaitu semut jantan yang subur (tidak mandul). Satu – satunya fungsi semut ini adalah untuk mengawini ratu semut.
Frasa  Nà6uZÅ3»|¡tB berarti “desamu”,“kotamu”, “kehidupanmu”, “kekuasaanmu”, atau “kerajaanmu”. Klausa  Nä3¨ZyJÏÜøtsw berarti “ dia tidak memecahkanmu”, “tidak menghancurkanmu”, atau “tidak membunuhmu”
Kata Hathm berarti “memecahkan sesuatu yang keras”. Hathmah juga merupakan nama api neraka, karena ia menghancurkan apa yang menyentuhnya. Hitham juga berarti “benda kering yang pecah”. Semut penjaga melarang kawanan semut yang lain untuk keluar atau berhenti di depan Nabi Sulaiman a.s. dan pasukannya.
Klausa wa hum la yasy’urun berarti ”mereka tidak mengerti dengan tempat kalian”. Dengan kata lain, seandainya mereka tahu, niscaya mereka tidak melakukannya. Ia berkata kepadamu atas dasar ketidakmampuan. Nabi Sulaiman dan pasukannya dideskripsikan dengan sifat adil. Ini tanda ajaran agama, keadilan, kasih sayang, dan sifatnya yang benar.

Sisi ilmiah kata – kata pada ayat
Qalat namalah menjadi bentuk negosasi diantara semut. Apakah semut tersebut jantan atau betina? Dia dikenal dengan nama apa? Diriwayatkan bahwa Qatadah menuju Kufah. Lalu, ia menemui sekelompok orang dan berkata, “Bertanyalah tentang sesuatu”. Pada saat itu, Abu Hanifah ada dan masih muda. Dia diminta bertanya, “Tanyakan kepadanya tentang semut Nabi Sulaiman. “Apakah jantan atau betina? Qatadah tidak mampu menjawbnya. Lalu Abu Hanifah, berkata “ Semut itu Betina”. Ada yang bertanya lagi, “Alasan kamu apa?” Ia menjawab, ” Karena Al- Qur’an menyebutkan qalat namlah.” Seandainya jantan, niscaya redaksinya qala namlah, karena kata namah bisa berarti mudzakar ( jantan ) dan muannast ( betina). Oleh karena itu, ia diberikan tanda perbedaan. Orang arab menyebut hamamah dzakar (semut jantan )dan hamamah untsa (semut betina). Ada yang mengatakan bahwa namanya thakhiah atau harmina. Sampai kini tidak mengerti mengapa semut diberi nama, padahal diantara mereka tidak ada yang saling memberi nama. Begitu juga manusia tidak mungkin memberikan nama pada salah satu semut itu. Karena manusia tidak bisa membedakan satu dengan yang lainnya. Jika ia betina apakah itu yang menjadi ratu semut ataukah semut pekerja.[2]
Berbagai pertanyaan terus muncul seputar itu dan tiada akhir. Oleh karena itu, lebih baik kita tidak fokus ke sana. Adapun yang dimaksud dengan kata namlah pada ayat tersebut adalah ratu semut.
Pendapat tersebut didasarkan pada alasan berikut ini :
1.      Huruf “ta“ pada kata qalat menjadi penanda feminin (muannats) yang berarti satu ekor, yang bisa jadi ratu semut atau semut pekerja. Bisa juga itu berarti perintah ratu yang diucapkan oleh semut pekerja yang ditujukan kepada semua semut sebelum habisnya waktu. Indikasi feminine ini lebih dominan ditujukan kepada ratu semut disbanding semut pekerja, karena ratu semut adalah semut yang subur, sementara semut pekerja adalah semut mandul.
2.      Ratu semut adalah induk dari semua semut. Tidak heran jika status keibuannya disegani oleh anaknya dibanding dengan semut yang lain. Itu sangat jelas dari redaksi ayat.
3.      Semut ratu adalah semut memerintah dan melarang (penentu kebijakan) dalam status kerajaan semut. Kekuasaan ini tidak dimiliki oleh semut lain. Dengan kata lain ia memiliki kemuliaan, posisi manajerial, dan disegani.
4.      Konteks dalam redaksi An – Naml adalah kondisi kerajaan. Karena itu, konteksnya tentang kerajaan yang diwakili Nabi Sulaiman a.s. juga tentang kerajaan Ratu Saba yang diwakili oleh Ratu Saba. Lalu bagaimana mungkin ihwal kerajaan semut  tidak berasal dari rattu semut. Dengan begitu, pembicaraan tersebut memang berada pada posisi tertinggi terkait struktur kerajaan.
5.      Muncul pertanyaan mengapa ratu semut selalu di dalam sarang ? Lalu bagaimana ia bisa mengetaui kalau Nabi Sulaiman dan pasukannya tiba di lembah. Apakah ratu semut melihatnya? Padahal seperti yang diketahui, penglihatan semut secara umum lemah, bahkan banyak diantaranya yang tidak bisa melihat. Namun ia bisa merasa melalui berbagai perangkat perasa yang dibekali oleh Allah SWT. Perangkat yang paling penting adalah tanduk perasa (antenna). Dengan tanduk tersebut, semut bisa menemukan berbagai lubang dan bangkai. Di samping itu, semut bisa merasakan adanya udara, kehangatan, kelembaban, udara kencang dan suara gemuruh. Bisa jadi tanduk inilah yang dipergunakan oleh ratu semut, sehingga ia merasakan Nabi Sulaiman dan pasukannya sebelum kedatangan mereka yang mengeluarkan suara gemuruh. Lalu, ia memberikan perintah kepada rakyatnya, semua itu seperti biasa ia mandatkan kepada pembantunya.
6.      Dalam hadis disebukan bahwa suatu kaum mengalami kekeringan yang sangat parah. Lalu mereka meminta kepada Nabi mereka untuk keluar melakukan shalat istisqa. Lalu  Nabi keluar bersama kaumnya, “ kalian tidak perlu berdoa kepada Allah agar mereka diberi hujan. Lalu Nabi berkata kepada kaumnya, “Kalian tidak perlu berdoa, pulanglah, doa kalian telah dikabulkan berkat doa semut ini ” Berdasarkan cerita ini, ada yang bertanya “Apakah yang berdoa ini ratu semut atau semut biasa?” dan jawabannya adalah semut biasa. Ia memiliki tugas untuk rajin, giat berusaha dan mengumpulkan makanan. Ini adalah tugasnya. Ketika ia telah mengerahkan segala kemampuannya tanpa ada hasil, tidak mungkin ia akan kembali ke sarangnya dengan tanpa hasil. Karena itulah ia memohon kepada Allah agar ia diberikan rejeki untuk menyempurnakan tugasnya. Raja semut adalah yang terakhir merasakan lapar dan haus dibandingkan dengan masyarakatnya.
7.      Dalam ayat tersebut, kata Namlah disebut secara nakirah (indefinitif). Tujuannya untuk mengambil pelajaran berupa pengagungan. Pada saat yang sama, nakirah bertujuan untuk membaurkan seseorang atau seekor dalam suatu komunitas yang melakukan kegiatan dengan sempurna. Oleh karena itu, masing–masing menjadi rahasia bagi komunitasnya. Ini merupakan karakteristik semut yang tidak diketahui oleh mereka yang menolak kebenaran atau matrealis.
Masyarakat semut adalah masyarakat yang saling tolong menolong. Semut yang paling kaya dalam masyarakatnya merupakan semut yang mengorbankan dirinya untuk masyarakatnya. Terkait “ Udkhulu masakinakum” masuklah ke sarang – sarang kalian, dan Allah tidak mengatakan “Udkhulna” karena ketika Allah menciptakannya berbicara, maka posisi semut pada saat itu sama dengan orang – orang yang berakal ketika diajak bicara. Karena ucapan hanya untuk orang yang berakal,. Panggilan tersebut menyentuh hati nurani mereka yaitu “masuklah”. Lihatlah bagaimana semut digambarkan memilki akal, pemahaman, kemampuan memanggil saudaranya, memerintahkan mereka untuk berlari dari keburukan, dan perintah masuk sarang untuk mencari perlindungan agar tidak terinjak oleh Nabi Sulaiman dan pasukannya tanpa dirasakan oleh mereka.
      Semua itu mengandung peringatan untuk membangunkan akal tentang apa yang dianugerahkan kepada semut dari segi ketelitian, keteraturan, dan politik.Di samping itu, ia juga memberikan gambaran keindahan arsitektur sarang dan lubangnya. Sarang semut terletak di dalam tanah, di dalam sarang nya terdpat lubang – lubang, lorong – lorong dan kamar yang memiliki tingkatan kelas. Mengenai semut ini, dapat dijelaskan secara rinci seperti berikut. Panggilan ratu semut kepada semut yang berada di bawah perintahnya dan proses pengumpulan mereka menunjukkan retorika politik dan hokum dalam menjalankan tugasnya.
      Kata masakin (sarang) berbentuk jamak (plural). Itu menunjukkan bahwa semut tidak terbatas hanya mengurus satu sarang, akan tetapi, ada jenis sarang lain yang ada di tempat lain di sekitar lingkungan tersebut. Ada sarang yang dibangun di tanah dan ada yang ada di atas pohon, seperti manusaia membangun rumah di atas gunung.
      Ketika penduduk mesir kuno membuat ruang dibawah tanah, gua – gua, lubang – lubang, dan bangunan – bangunan diatasnya seperti piramida. Kita tidak tahu siapa yang mengajarkan mereka, namun dengan keyakinan yang kuat bahwa semut diberikan petunjuk oleh Allah tanpa proses belajar dan latihan. Semut lebih dulu jutaan tahun lamanya menciptakan sarang di bawah tanah dan diatas pohon sebelum manusia.
      Pengungkapan sarang menggunakan kata maskan, menunjukkan ketentraman, ketenangan, kamanan, kebahagiaan, dan kekeluargaan. Semua itu terjadi setelah usaha yang panjang. Semua itu tidak akan terjadi tanpa adanya kemampuan sarang penampung semua kebutuhan hidup penghuninya yang disertai dengan aturan yang kuat dan fitrah yang benar. “Udkhulumasakinakum” masuklah ke sarang – sarang kalian merupakan tanda pentingnya bagi siapa saja yang berda di jalanan untuk menyingkir dan yang ditemukan di jalan harus disingkirkan.
      Kondisi ini sama dengan orang yang sedang berjalan di tengah jalan raya pada malam hari. Terkadang pakaiannya gelap, sehingga tidak terlihat oleh orang lain yang bisa menyusahkan bagi pengendara motor nuk melihatnya. Ia berda pada posisi yang berbahaya. Dalam kondisi yang seperti ini ia harus menyingkir dari jalan untuk menghndari kecelakaan. Klausa “La yahtimannakum” jangan sampai kalian diinjak, mendorong kita berpikir apa yang dimaksud dengan tahthim (menginjak), apakah menginjak jiwa, badan atau keduanya? Lalu, mengapa kata tersebut menggunakan kata tahthim ? Al- Fakhr Al- Razi berkomentar, ” Ratu semut memerintahkan masyarakatnya untuk masuk karena takut kaumnya melakukan maksiat.
Karena jika mereka melihat keagungan Nabi Sulaiman, bisa jadi kaumnya kafir kepada nikmat Allah SWT. Inilah yang dimaksud dengan firman Allah, “agar kalian tidak diinjak oleh Sulaiman “. Oleh karena itu mereka diperintahkan  masuk agar mereka tidak melihat nikmat Nabi Sulaiman dan tidak kafir kepada nikmat Allah SWT. Ini merupakan pelajaran bahwa terlalu mengejar kemewahan dunia tidak bagus.”
Al – Qurthubi berkata dalam berkata dalam kitab tafsirnya, “ tidak ada istilah menginjak atau merusak hati, takut ia berkeinginan untuk mengumpulkan apa yang diberikan atau takut terkena fitnah dunia, karena mereka sibuk melihat kekuasaan Nabi Sulaiman dan lupa berdzikir juga bertasbih kepada Allah.” Tidak mengherankan ketika Al- Fakr Al – Razi dan Al – Qurthubi berkomentar seperti itu.
Ketika mereka merenungkan apa yang dikatakan oleh semut, niscaya kita kan mengerti kehebatan makhluk yang memiliki pemahaman akal dan kehebatan bahasa itu. Melihat sistem kehidupan bermasyarakat yang ideal, sangat mungkin apa yang dikatakan oleh semut bertujuan untuk menginjak  atau merusak kesehatan jiwa dan hati secara besar – besaran.
Dari segi ilmiah, kata ini sendiri memiliki makna ilmiah yang dalam. Ini tidak terjadi pada kata lain. Kita mengerti bahwa rangkaian tulang manusia berada di dalam tubuh manusia. Jika satu atau lebih tulang yang patah, tidak sampai merusak tubuh secara keseluruhan, bahkan kerusakan itu bisa diobati. Kondisi ini sangat jauh berbeda dengan kondisi semut. Rangka semut menyelimuti semut dari luar badannya. Badannya dilindungi oleh kulit.
Fungsi rangka ini adalah menjaga anggota tubuh dan susunan dalam dari goncangan mekanis, sebagaimana bersambungnya otot yang bertumpu padanya, mempengaruhi perkembangannya, dan menggerakkannya dengan gerakan tertentu. Rangka ini tidak hanya menutupi badan serangga dari luar dan melindungi semata, tetapi ia juga mengkondisikan hentakan yang terjadi secara alami dari kulit, seperti fungsi rongga mulut, bagian depan dan belakang sistem pencernaan, kantong udara, juga berbagai kelenjar yang terbuka di ujung kulit. Dinding badan serangga terartur dan terbatas. Ia tidak bisa melebar kecuali dalam waktu tertentu dan masa yang singkat mengikuti proses berganti kulit (moulting). Kulit ini berbeda – beda dari segi kekerasan dan ketebalannya. Ada kulit yang sangat tipis, yang memberikan kemudahan dalam bergerak.
Kulit ini berda dalam persendian badan, terkadang pada bagian tertentu kulit sangat tebal dan di bagian lain sangat tipis. Kekhususan dari segi kimia, semut tidak tenggelam pada air atau alkohol atau tempat lain. Ia juga tidak tenggelam pada zat asam yang dibuat. Pembahasan ini menjelaskan kepada kita bahwa rangka ini terancam bahaya seperti ketika terkena hentakan di bawah kaki. Bisa jadi serangga itu hancur dan rusak akibat hentakan tersebut. Ketika salah satu bagian semut terpecah, maka rusaklah semua badan dan keluarlah isinya lalu kering dan mati.
Pecah yang dimaksud disini tidak biasa, tetapi pecah yang berakibat pada kehancuran serangga secara keseluruhan dan kematiannya. Oleh karena itu, kata ini dengan sendirinya menjelaskan makna ilmiahnya secara mendalam tentang susunan badan serangga, yaitu semut.
Selain itu, semut juga memiliki sistem pertahanan yang sangat unik. Apabila ada burung yang mendekati sarangnya, sebagian semut yakni yang bertugas membangun koloni, mengarahkan perut mereka ke atas di lubang sarang dan menyemprotkan asam ke arah burung. Di dalam sarang semut, ada tempat-tempat khusus dengan “pintu-pintunya” yang dapat ditutup bila ada bahaya yang mengancam. Penutupnya adalah kepala semut-semut itu sendiri. Kepala itulah yang mendeteksi siapa yang akan masuk. Ada irama khusus yang mereka ketahui diantara sesama mereka yang bila irama itu mereka tidak dengar, maka semut tersebut menyerang si pendatang.[3]
Apakah semut yang disebut pada ayat diatas termasuk pasukan Nabi Sulaiman a.s.? Lalu bagamana ia bisa mengenal bahwa yang datang adalah Nabi Sulaiman dan pasukannya. Perkiraan sebagian besar orang adalah semut tersebut bukan pasukan Nabi Sulaiman a.s.

D.    Hikmah yang dapat di ambil dari semut
Terdapat hal – hal yang perlu dicontoh dari semut yaitu :
1.      Semangat semut yang tidak pernah putus asa
Apabila kita mencoba untuk menghalangi jalannya semut, misalnya kita menutupi jalan semut dengan tangan, semut tersebut tidak akan putus asa untuk mencari jalan lain atau celah jalan. Maka dari itu sifat semut yang pantang menyerah harus kita contoh apabila kita menemukan sebuah hambatan.
2.      Semut yang rajin
Semut selalu aktif, mereka kesana kemari untuk mencari makanan ( bekerja ), bekerja merupakan hal yang sangat penting dalam hidup semut, semut tidak pernah merasa bosan dengan apa yang dilakukan setiap hari. Sebab, semut mempunyai arah dan tujuan dalam hidup. Untuk itu, kita sebagai manusia harus mencontoh sifat yang dimiliki oleh semut, tidak bermalas – malasan untuk bekerja, serta harus mempunyai tujuan dan arah hidup yang kita ingin capai.
3.      Semut itu kuat
Semut mampu mengangkat beban yang jauh lebih besar dari tubuhnya, semut tidak pernah mengeluh, apalagi menyerah, untuk itu kita harus kuat dalam menghadapi semua cobaan yang diberikan oleh Allah SWT.
4.      Jiwa sosial yang tinggi
Semut memiliki jiwa social yang tinggi, ketika makanan yang mereka angkut terlalu berat, mereka akan saling tolong menolong dan mengangkatnya bersama – sama. Untuk itu, kita tidak boleh bersikap egois terhadap sesama.
5.      Paling cepat melihat peluang
Semut cepat datang apabila mereka mengetahui ada peluang untuk mendapatkan makanan, semut tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, karena semut tahu bahwa kesempatan hanya datang satu kali.
6.      Dapat mengatur waktu
Semut mempunyai sistem pencernaan yang baik, mereka menyadari adakalanya mereka harus bekerja keras dan ada waktunya untuk beristirahat. Ketika masa untuk bekerja datang, mereka akan menggunakannya untuk mengumpulkan bekal makanan. Karena mereka sadar, ketika musim dingin tiba, mereka akan beristirahat di dalam sarangnya yang hangat dengan makanan yang cukup.
7.      Rasa kekeluargaan
Semut memiliki rasa kekeluargaan yang tinggi, setiap mereka bertemu mereka selalu berjabat tangan.           
Dengan mengetahui sifat – sifat semut tersebut, diharapkan kita mampu mengambil ibrah dan dapat mengembangkannya menjadi kebiasaan yang positif untuk hidup yang lebih baik.



III.             SIMPULAN
Semut merupakan kelompok serangga yang berasal dari keluarga Formisidae dan semut termasuk dalam ordo Himenoptera. Semut memiliki 12.000 spesies, sebagian besar semut hidup di kawasan tropika. Satu koloni, dapat menguasai daerah yang luas untuk mendukung kehidupan mereka, koloni semut kadangkala disebut dengan Superorganisme. Semut telah disebutkan di dalam Al – Qur’an yaitu surat An- Naml yang berarti semut, di dalam (Q.S. An-Naml: 18) menjelaskan bahwa semut dapat berbicara. Fakta tersebut telah dinyatakan kurang lebih sekitar 1400 tahun lalu, dan secara mengagumkan, penemuan – penemuan ini sangat sesuai dengan penemuan – penemuan ilmiah saat ini. Ayat ini juga menggugah akal untuk memperhatikan struktur dan pengaturan kepemimpinan yang rapi dan baik.
Terkait dengan kemukjizatan semut, terdapat dalam (Q.S. An-Naml : 17- 19) menyatakan bahwa yang memimpin sekelompok semut adalah ratu semut, ratu tersebut memerintahkan kepada rakyatnya untuk masuk ke sarangnya apabila pasukan Nabi Sulaiaman a.s. telah tiba.
Adapun beberapa hikmah yang dapat kita pelajari semut yaitu :
1.      Memiliki rasa sosialisasi yang tinggi
2.      Semut itu kuat
3.      Memiliki rasa kekeluargaan yang tinggi
4.      Dapat mengatur waktu
5.      Paling cepat melihat peluang
6.      Rajin
7.      Tidak pantang putus asa
IV.             PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat kami sampaikan, semoga dapat bermanfaat bagi pembaca ataupun penulis. Kami telah membuat tugas ini dengan segala keterbatasan kami, kami menyadari bahwa makalah kami masih harus diperbaiki lagi kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam penulisan maupun dalam teknis. Atas perhatiannya kami mengucapkan terimakasih.  
DAFTAR PUSTAKA

Almargi, Ahmad Mustofa.1993.Tafsir Al – Maragi.Semarang: Thoha Putra
Thalbah, Hisyam.2010.ENSIKLOPEDIA Mukjizat Al – Qur’an dan Hadis.Semarang: Sapta Sentosa
Shihab, M Quraisy.2004.Dia Di Mana-Mana, Jakarta: Lentera Hati







[1]               Ahmad Mustofa Almargi, Tafsir Al – Maragi, (Semarang: Thoha Putra, 1993), hlm.240.

[2] Hisyam Thalbah, ENSIKLOPEDIA Mukjizat Al – Qur’an dan Hadis, (Semarang: Sapta Sentosa, 2010), hlm.22.
[3] M. Quraish Shihab, Dia Di Mana-Mana, ( Jakarta: Lentera Hati, 2004), hlm.306.

1 komentar:

i need help please this for my school project thankyou so much

http://semutsss.over-blog.com/
.

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More