Thursday, August 31, 2017

Makalah Filsafat Ibnu Bajah

IBNU BAJAH

MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Filsafat Islam
Dosen pengampu: Dr. Mahfud Junaedi, M.Ag.






Direvisi oleh:
Baihaqi An Nizar                    (133111013)

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) 3A
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) WALISONGO
SEMARANG
2014

I.          PENDAHULUAN
Ibnu Bajjah adalah salah seorang tokoh filosaf yang namanya sudah tak asing lagi di telinga kita. Nama lengkap beliau adalah Abu Bakar Muhamad ibn Yahya ibn al-Sha’igh al-Tujibi al-Andalusi al-Samqusti ibn Bajah. Selain sebagai filsuf, Ibn Bajah dikenal sebagai penyair dan komponis.
Ibn Bajah sebagai seorang filosof mengemukakan teorinya yakni al-Ittishal, yaitu bahwa manusia mampu berhubungan dan meleburkan diri dengan Akal Fa’al atas bantuan ilmu dan pertumbuhan kekuatan insaniyah. Berkaitan dengan teori ittishal tersebut, Ibn Bajah juga mengajukan satu bentuk epistemologi yang berbeda dengan corak yang dikemukakan oleh al-Ghazali di Dunia Islam Timur.
Kalau al-Ghazali berpendapat bahwa ilham adalah sumber pengetahuan yang  lebih penting dan lebih dipercya, maka Ibn Bajah mengkritik pendapat tersebut, dan menetapkan bahwa sesungguhnya perseorangan mampu sampai kepada puncak pengetahuan dan melebur ke dalam Akal Fa’al, bila ia telah bersih dari kerendahan dan keburukan masyarakat. Kemampuan menyendiri dan mempergunakan kekuatan akalnya akan dapat memperoleh pengetahuan dan kecerdasan yang lebih besar. Pemikiran insani dapat mengalahkan pemikiran hewani, sekaligus pikiran inilah yang membedakan manusia dengan hewan. Lebih jauh, Ibn Bajah menjelaskan bahwa masyarakat umum bisa mengalahkan perseorangan.[1]

II.       RUMUSAN MASALAH
A.    Bagaimana biografi dari Ibnu Bajjah ?
B.     Bagaimana pemikiran dari Ibnu Bajjah ?
C.     Apa karya-karya dari Ibnu Bajjah ?

III.    PEMBAHASAN
A.    Biografi Ibnu Bajjah.
         Nama asli Ibnu Bajjah adalah Abu Bakar Muhammad Ibn Yahya al-Sha’igh. Di dunia Barat ia dikenal dengan sebutan Avempace. Dia berasal dari keluarga Al-Tujib.[2] Karena itu ia dikenal sebagai al-Tujibi yang bekerja sebagai pedagang emas (Bajah = emas).[3] Ibnu Bajjah lahir pada abad 11 M atau abad V H, di kota Sarahossa dan sampai besar. Dia dapat menyelesaikan jenjang akademisnya, juga di kota Saragossa. Maka ketika pergi ke Granada, dia telah menjadi seorang sarjana bahasa dan sastra Arab dan dapat menguasai dua belas macam ilmu pengetahuan.
         Selain sebagai filsuf, Ibn Bajah dikenal sebagai penyair, komponis, bahkan sewaktu Saragosa berada di bawah kekuasaan Abu Bakar ibn Ibrahim al-Shahrawi (ibn Tifalwit) dari Daulah al-Murabithun, ibn Bajah dipercayakan sebagai wazir. Tetapi, pada tahun 512 H Saragosa jatuh ke tangan Raja Alfonso I dari Arogan dan ibn Bajah terpaksa pindah ke Sevilla. Di kota ini ia bekerja sebagai dokter, kemudian ia pindah ke Granada dan dari sana ia pindah ke Afrika Utara, pusat Dinasti Murabithun. Malang bagi Ibnu Bajah, setibanya di kota Syatibah ia ditangkap oleh Amir Abu Ishak Ibrahim ibn Yusuf ibn Tasifin yang menuduhnya sebagai murtad dan pembawa bid’ah, karena pikiran-pikiran filsafatnya yang asing bagi masyarakat Islam di Maghribi yang sangat kental dengan paham sunni ortodoks. Atas jasa Ibnu Rusyd, yang pernah menjadi muridnya, Ibnu Bajah dilepaskan. Kondisi masyarakat Baeber yang belum bisa berpikir filosofis tersebut, menyebabkan ia melanjutkan pengembaraannya ke Fez di Maroko.di sini ia masih dapat melanjutkan karirnya sebagai ilmuan di bawah perlindungan penguasa Murabithun yang ada di sana. Bahkan, hubungannya dengan pihak penguasa istana berjalan baik, sehingga ia diangkat sebagai menteri leh Abu Bakar Yahya ibn Yusuf ibn Tasifin untuk waktu yang lama. Akhirnya, ia meninggal pada 533 H (1138 M) di Fez, dan dimakamkan di samping makam Ibn ‘Arabi. Menurut satu riwayat, ia meninggal karena diracun oleh seorang dokter bernama Abu Al-‘Ala ibn Zuhri yang iri hati terhadap kecerdasan, ilmu dan ketenarannya.[4]
B.     Pemikiran Ibnu Bajjah
         Ibnu bajjah adalah seorang filosof yang ahli menyandarkan ilmunya pada teori dan praktek ilmu-ilmu matematika, astronomi, musik, mahir ilmu pengobatan dan studi-studi spekulatif seperti logika, filsafat alam dan metafisika, ibnu bajjah menyandarkan filsafat dan logikanya pada karya-karya al-farabi, yakni mendasarkan pada realitas adalah wajar.[5]
1)    Metafisika  (Ketuhanan)
    Menurut Ibnu bajjah, segala yang ada (al-maujudat) terbagi dua: yang bergerak dan yang tidak bergerak. Yang bergerak adalah jisim (materi) yang sifatnya finite (terbatas). Gerak terjadi dari perbuatan yang menggerakkan terhadap yang di gerakkan. Gerakan ini di gerakkan pula oleh gerakan yang lain, yang akhir rentetan gerakan ini di gerakkan oleh penggerak yang tidak bergerak; dalam arti penggerak yang tidak berubah yang berbeda dengan jisim (materi). Penggerak ini bersifat azali. Gerak jisim mustahil timbul dari subtansinya sendiri sebab ia terbatas. Oleh karena itu, gerakan ini mesti berasal dari gerakan yang infinite (tidak terbatas) yang oleh ibnu bajjah disebut dengan ‘aql.
    Kesimpulanya, gerakan alam ini –jism yang terbatas- digerakkan oleh ‘aql (bukan berasal dari subtansi alam sendiri). Sedangkan yang tidak bergerak adalah ‘aql, ia menggerakkan alam dan ia sendiri tidak bergerak. ‘aql inilah disebut dengan Allah (‘aql, aqil, dan ma’qul) sebagaimana yang dikemukakan oleh al-farabi dan ibnu sina sebelumnya.
2)   Jiwa
   Menurut pendapat ibnu bajjah, setiap manusia mempunyai jiwa. Jiwa ini tidak mengalami perubahan sebagaimana jasmani. Jiwa adalah penggerak bagi manusia. Jiwa di gerakkan dengan dua jenis alat: alat-alat jasmaniah dan alat-alat  rohaniah. Alat-alat jasmaniah antaranya ada berupa buatan dan ada pula berupa alamiah, seperti kaki dan tangan. Alat-alat alamiah ini lebih dahulu dari alat buatan’ yang di sebut juga oleh ibnu bajjah dengan pendorong naluri (al-harr al-garizi) atau roh insting. Ia terdapat pada setiap makhluk yang berdarah.
   Jiwa menurut ibnu bajjah, adalah jauhar rohani, akan kekal setelah mati. Di akhirat jiwalah yang akan menerima pembalasan, baik balasan kesenangan (surga) maupun balasan siksaan (neraka). Akal, daya berpikir bagi jiwa, adalah satu bagi setiap orang yang berakal. Ia dapat bersatu dengan akal fa’al yang di atasnya dengan jalan ma’rifah filsafat.
3)   Akal dan Ma’rifah
   Ibnu bajjah menempatkan akal dalam posisi yang sangat penting. Dengan perantaraan akal, manusia dapat mengetahui sesuatu, termasuk dalam mencapai kebahagiaan dan masalah ilahiyat. Akal menurut ibnu bajjah terdiri dari dua jenis. Akal teoritis dan akal praktis. Akal teoritis di peroleh hanya berdasarkan pemahaman terhadap sesuatu yang kongkret atau abstrak. Sedangkan akal praktis di peroleh melalui penyelidikan (eksperimen) sehingga menemukan  ilmu pengetahuan.
   Oleh karena itu, pengetahuan yang di peroleh akal ada dua jenis pula. Yang dapat di pahami , tetapi tidak dapat di hayati; yang dapat dipahami dan dapat pula dihayati.
4)      Akhlak
   Ibnu bajjah membagi perbuatan manusia kepada dua bagian. Bagian pertama, ialah perbuatan yang timbul dari motif naluri dan hal-hal lain yang berhubungan denganya, baik dekat atau jauh. Bagian kedua ialah perbuatan yang timbul dari pemikiran yang lurus dan kemauan yang bersih dan tinggi dan bagian ini disebutnya, perbuatan-perbuatan manusia.
   Pangkal perbedaan antara kedua bagian tersebut bagi ibnu bajjah bukan perbuatan itu sendiri melainkan motifnya. Untuk menjelaskan kedua macam perbuatan tersebut, ia mengemukakan seorang yang terantuk dengan batu, kemudian ia luka-luka, lalu ia melemparkan batu itu. Kalau ia melemparnya karena telah melukainya maka ia adalah perbuatan hewani yang didorong oleh naluri kehewananya yang telah mendiktekan kepadanya untuk memusnahkan setiap perkara yang menganggunya.
   Kalau melemparkanya agar batu itu tidak mengganggu orang lain,bukan karena kepentingan dirinya, atau marahnya tidak bersangkut paut dengan pelemparan tersebut, maka perbuatan itu adalah pekerjaan kemanusiaan. Pekerjaan yang terakhir ini saja yang bisa dinilai dalam lapangan akhlak, karena menurut ibnu bajjah hanya orang yang bekerja dibawah pengaruh pikiran dan keadilan semata-mata, dan tidak ada hubunganya dengan segi hewani padanya, itu saja yang bisa dihargai perbuatanya dan bisa di sebut orang langit.
   Setiap orang yang hendak menundukkan segi hewani pada dirinya, maka ia tidak lain hanya harus memulai dengan melaksanakan segi kemanusiaanya. Dalam keadaan demikianlah, maka segi hewani pada dirinya tunduk kepada ketinggian segi kemanusiaan, dan seseorang menjadi manusia dengan tidak ada kekuranganya, karena kekurangan ini timbul disebabkan ketundukanya kepada naluri.
5)   Manusia Penyendiri
   Filsafat ibnu bajjah yang paling populer ialah manusia penyendiri (al-insan al-munfarid) dalam menjelaskan manusia penyendiri ini, ibnu bajjah terlebih dahulu memaparkan pengertian tadbir al-mutawahhid. Lafal tadbir, adalah bahasa arab, mengandung pengertian yang banyak, namun pengertian yang diinginkan oleh beliau ialah mengatur perbuatan untuk mencapai tujuan yang di inginkan, dengan kata lain aturan yang sempurna. Dengan demikian, jika tadbir dimaksudkan pengaturan yang baik untuk mencapai tujuan tertentu,maka tadbir tentu hanya khusus bagi manusia. Sebab pengertian itu ,hanya dapat dilakukan dengan perantaraan akal,yang akal  hanya terdapat pada manusia. Dan juga perbuatan manusia  berdasarkan ikhtiar. Hal inilah yang membedakan manusia dari makhluk hewan.[6]
C.     Karya-Karya Ibnu Bajjah
         Sebagaimana buku yang diedit oleh M.M.Syarif, beberapa karya Ibnu Bajjah, baik dalam bentuk bahasa Arab atau bahasa Inggris menjadi bukti sebuah pengakuan dari dunia luar atas karyanya diantaranya:
1.      Tardiyyah sebuah puisi yang ada di The Berlin Library.
2.      Karya-karya yang disunting oleh Asin Palacios dengan terjemahan bahasa Spanyol dan catatan-catatan yang diperlukan: (i) Kitab An-Nabat, Al-Andalus, jilid V, 1940; (ii) Risalah Ittishal Al-‘Aql bi Al-Insan, Al-Andalus, jilid VII,1942; (iii) Risalah Al-Wada Al-Andalus, jilid VIII, 1943;(iv) Tadbir Al-Mutawahhis berjudul El Regimen Del Solitario, 1946.
3.      Karya-karya yang disunting oleh Dr.M.Shaghir Hasan Al-Ma’sumi: (i) Kitab An-Nafs dengan catatan dan pendahuluan dalam bahasa Arab, Majallah Al-Majma’ Al-‘Ilm Al-‘Arabi, Damaskus, 1958; (iii) Risalah Al-Ghayah Al-Insaniyyah berjudul Ibnu Bajjah on Human End, dengab terjemahan bahasa Inggris, Journal of Asiatic Society of Pakistan, jilid II, 1957.[7]

IV.    KESIMPULAN
Nama asli Ibnu Bajjah adalah Abu Bakar Muhammad Ibn Yahya al-Sha’igh. Di dunia Barat ia dikenal dengan sebutan Avempace. Dia berasal dari keluarga Al-Tujib. Sedangkan pemikiran Ibnu Bajjah diantaranya:
a.        Metafisika  (Ketuhanan)
b.      Jiwa
c.       Akal dan Ma’rifah
d.      Akhlak
e.       Manusia Penyendiri.
Karya-karya dari Ibnu Bajjah :
a.       Tardiyyah
b.      Kitab an-Nabat
c.       Al-Andalus
d.      Risalah Ittishal al-‘Aql bi al-Insan
V.       PENUTUP
Dengan berakhirnya makalah yang dibuat ini, penyusun menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini terdapat kesalahan dan kekurangan, untuk itu penyusun mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangum demi kesempurnaan makalah ini dan berikutnya. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca.




                [1] Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1999), hal. 93.
                [2] A. Mustofa, Filsafat Islam, (Bandung : CV Pustaka Setia, 1997), hlm, 255
                [3] Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1999), hal. 93.

[4] Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1999), hal. 94.
[5] A. Mustofa, Filsafat Islam ..., hlm. 258
                [6] Sirajuddin Zar. Filsafat Islam.(Jakarta: Raja Grapindo Persada, 2004) hal.195
[7] Dedi Supriyadi, Pengantar Filsafat Islam, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2009), hlm, 199-200.

0 komentar:

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More